DIY
Bangkitkan Semangat Membaca, BI DIY Adakan Bedah Buku bersama Sapardi Djoko Damono
Ketika kualitas membaca seseorang bagus, maka tak mudah termakan apa yang ia baca.
Penulis: Yudha Kristiawan | Editor: Gaya Lufityanti
Laporan Reporter Tribun Jogja, Yudha Kristiawan
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Literasi membaca buku terus dilakukan berbagai pihak.
Kali ini giliran Generasi Baru Indonesia sebuah organisasi penerima beasiswa Bank Indonesia di bawah naungan Kantor Perwakilan Bank Indonesia DIY mengadakan bedah buku bertajuk Imajinasi Menjadi Inspirasi "Yang Fana Adalah Waktu", dengan moderator Annisa Hertami, Senin (23/4/18).
Buku tersebut merupakan trilogi Hujan Bulan Juni karya sastrawan kawakan, Sapardi Djoko Damono.
Pada bedah buku yang digelar di Bangsal Mataram Kantor Perwakilan Bank Indonesia DIY ini Sapardi memberikan pengalaman bagaimana ia menulis karya karyanya yang dijadikan buku.
Di sela acara untuk memperingati Hari Buku dan Copyright Internasional ini, Sapardi menuturkan, penting untuk terus mendorong literasi membaca.
Menurutnya, literasi tak cukup hanya sampai pada suka membaca saja, melainkan meningkatkan kualitas bacaan.
"Harus ada level atau tingkatan literasi. Kita harus mendorong peningkatan kualitas bacaan, tak berhenti hanya suka membaca saja. Sampai saat ini buku masih mempunyai keunggulan, meski membaca di ebook juga sudah dilakukan," ujar Pria kelahiran Surakarta, 20 Maret 1940 ini.
Meningkatkan kualitas membaca dan bacaan bagi Sapardi sangat penting.
Hal ini agar individu bisa memahami apapun yang ia baca.
Tidak hanya karya sastra, membaca pidato politik bahkan iklan.
Ketika kualitas membaca seseorang bagus, maka tak mudah termakan apa yang ia baca.
Lantaran keberadaan buku menurut pengarang novel trilogi Hujan Bulan Juni ini begitu penting, bahkan ia tak bisa membayangkan bila kehidupan ini tanpa hadirnya buku.
Soal berkarya, Sapardi mengibaratkan dirinya seperti air, mengalir saja.
"Untuk karya memang ngglinding saja. Kadang memang pengin menulis sesuatu dengan satu tema. Tapi keluarnya ya begitu saja tak direncanakan, keluarnya mengikuti zaman. Saya sendiri lebih beriman pada kata kata bukan peristiwa," ujarnya.
Ketika karyanya diadopsi ke dalam bentuk musikalisasi puisi bahkan film seperti novel Hujan Bulan Juni, Sapardi mempersilahkan dan menganggap hal tersebut adalah bentuk penafsiran karyanya yang majemuk. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/bedah-buku-yang-fana-adalah-waktu_20180423_175901.jpg)