Angka Putus Sekolah di Gunungkidul Masih Tinggi
Banyak masyarakat yang enggan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi.
Penulis: Rendika Ferri K | Editor: Ari Nugroho
Seperti pengaruh dari lingkungan sekitar yang mendorong sang anak malas melanjutkan sekolah.
"Bukan masalah ekonomi saja, tetapi juga kondisi lingkungan di sekitar anak itu, di daerah yang tinggi angka putus sekolah, sehingga mempengaruhi kemauan untuk anak sekolah," tuturnya.
Bahron menuturkan, pihaknya telah melakukan sejumlah upaya untuk menekan angka putus sekolah yang ada di Gunungkidul.
Diantaranya, melalui pemberian beasiswa untuk anak-anak berprestasi tetapi berasal dari keluarga kurang mampu.
Selain itu, dirinya juga memberikan pemahaman kepada para orangtua dan anak-anak akan arti pentingnya sekolah. Mereka diberikan dukungan untuk melanjutkan sekolah.
Baca: Ditinggal Ayah Ibu, Nabila Kini Putus Sekolah Lantaran Harus Rawat Adik dan Neneknya yang Stroke
"Kami berikan bantuan beasiswa dan juga berikan pemahaman kepada orangtua maupun pada anak sendiri untuk mau bersekolah," ujarnya.
Melalui cara itu, pihaknya pun berharap agar angka putus sekolah dapat menurun.
Anak-anak yang ada di Gunungkidul dapat memiliki keinginan untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.
"12 tahun masa belajar perlu untuk digencarkan, karena melalui sekolah ini peluang kerja akan terbuka lebar, dan kehidupan akan lebih baik," ujarnya.
Arahkan Ke Sekolah Kejuruan
Kepala Balai Pendidikan Menengah (Dikmen), Gunungkidul, Sukito, mengatakan para siswa diarahkan untuk bersekolah ke SMK sehingga mereka dapat memiliki kompetensi setelah lulus sekolah.
Lapangan pekerjaan pun dapat terbuka lebar bagi para lulusan SMK.
"Jurusan yang ada pun disesuaikan dengan kebutuhan zaman. Jurusan yang kurang diminati akan digantikan dengan jurusan yang banyak diminati," ujarnya.(TRIBUNJOGJA.COM)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/angka-putus-sekolah-di-gunungkidul_20180302_155304.jpg)