Angka Putus Sekolah di Gunungkidul Masih Tinggi

Banyak masyarakat yang enggan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi.

Penulis: Rendika Ferri K | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM / Rendika Ferri
Ilustrasi: suasana di SMP Negeri 1 Wonosari saat masa orientasi siswa baru 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Rendika Ferri K

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Angka putus sekolah di Kabupaten Gunungkidul dinilai masih tinggi.

Banyak masyarakat yang enggan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi.

Alasannya dipengaruhi oleh faktor ekonomi.

"Terjadi penurunan angka putus sekolah, namun jumlah kisaran masih tinggi," ujar Kepala Disdikpora Kabupaten Gunungkidul, Bahron Rasyid, Jumat (2/3/2018).

Berdasarkan data dari Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Gunungkidul, hingga kini angka putus sekolah untuk jenjang Sekolah Dasar mencapai tiga persen atau sebanyak 1.710 dari 57.000 siswa.

Baca: Bocah Kecil Itu Terpaksa Putus Sekolah Demi Merawat Ibu yang Lumpuh Sekujur Tubuh

Sementara untuk jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP), angka putus sekolah mencapai tiga persen atau 810 dari 27.000 anak.

Untuk jenjang Sekolah Menengah Atas maupun Kejuruan (SMA/SMK) hingga enam persen atau 1.620 anak putus sekolah dari total 27.000 anak.

Bahron mengatakan, tingginya angka putus sekolah ini disebabkan oleh faktor ekonomi.

Anak-anak yang mengalami putus sekolah tergolong dalam kategori keluarga kurang mampu.

Mereka pun memilih untuk bekerja dibandingkan sekolah yang membutuhkan banyak biaya.

"Kebanyakan karena alasan ekonomi, mereka enggan sekolah dan memilih bekerja," ujarnya.

Baca: Masyarakat Putus Sekolah Akan Dapat Pelatihan dari Sekolah Vokasi UGM

Namun di balik itu, Bahron menilai ada faktor lain yang juga memicu tingginya angka putus sekolah.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved