100 Tahun Phoenix Hadirkan Pameran Sulam

Workshop menyulam yang digelar sebagai bagian dari acara memperingati 100 tahun bangunan The Phoenix Hotel Yogyakarta.

Penulis: Yudha Kristiawan | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM / Yudha Kristiawan
Workshop menyulam digelar sebagai bagian dari acara memperingati 100 tahun bangunan The Phoenix Hotel Yogyakarta. 

Laporan Reporter Tribun Jogja Yudha Kristiawan

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Sejumlah perempuan nampak membuat sketsa di atas selembar kain.

Sementara lainnya sibuk menusukkan jarum dengan benang jahit berwarna-warni di lounge Hotel Phoenix Yogyakarta, Jumat (2/3/2018).

Para perempuan ini sedang mengikuti workshop menyulam yang digelar sebagai bagian dari acara memperingati 100 tahun bangunan The Phoenix Hotel Yogyakarta.

Kegiatan menyulam yang dihadirkan dalam peringatan 100 tahun ini dipilih menjadi salah satu agenda kegiatan lantaran kegiatan ini tak lekang zaman dan kini kembali populer.

Selaras dengan umur bangunan Phoenix Hotel yang tahun ini sudah menginjak usia 100.

Meski sudah berumur, namun tetap menyajikan keindahan desain bangunan yang tak habis untuk dinikmati.

Baca: Workshop Sulam Tangan by Seven Needles

Kristi Harjoseputro, Ketua Seven Needles Club, yakni komunitas pegiat menyulam yang dihadirkan dalam workshop sekaligus pameran kristik ini menuturkan, hiasan menyulam memiliki proses perjalanan cukup panjang sejak dahulu kala.

Kini, seni hiasan sulam dapat ditemukan di mana-mana dan setiap daerah memiliki ciri khas tersendiri.

Pada dasarnya, hampir tiap tiap negara di dunia ini memiliki sejarah dan cerita unik mengenai seni hiasan sulam.

Ketika dikeluarkan pertama, hasil sulaman tersebut dianggap sebagai sesuatu yang mewah.

Hasil sulaman hanya bisa dimiliki oleh orang-orang tertentu saja.

Hal ini terjadi di Byzantium pada tahun 330 sesudah Masehi sampai abad ke-15. Pada zaman tersebut hiasan dipadukan dengan ornamen dari emas.

"Menyulam adalah sebuah seni yang memadukan dekorasi sulaman pada kain. Alat bantunya jarum dan benang. Butuh ketekunan dan kesabaran untuk menyelesaikan satu desain sulaman," ujar Kristi di sela sela workshop.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved