124 TK-SD se-DIY Ikuti Lomba Angklung
Lomba ini diadakan sebagai wadah menyalurkan bakat-bakat seni tradisonal yang dimiliki oleh anak anak.
"Bukan soal anak bisa atau tidak, yang terpenting adalah partisipasi dan semangat mereka. Karena kalau tanpa kedua hal tersebut, mereka hanya sekedar bisa dan belum tentu senang," ungkapnya.
Bagi Almast Izati Zulfah, yang merupakan guru di SDIT Al-Muthi'in Maguwo, Banguntapan, Bantul sangat mengapresiasi adanya perlombaan ini.
Menurutnya bukan hanya sekedar menang dan kalah dalam perlombaan ini.
Namun yang terpenting banyaknya orang yang ikut terluka dalam proses pelestarian seni tradisional Indonesia.
"Harus selalu ada regenerasi dalam menjaga kebudayaan kita, biar tidak diakui oleh negara lain seni yang memang benar-benar asli milik kita," ungkapnya.
Almast juga sangat senang anak didiknya dapat menyalurkan bakat mereka lewat seni tradisonal.
Jatayu Indra Nugraha, murid di kelompok bermain Start mengaku tidak grogi saat bermain.
Murid yang baru berusia 5 tahun ini dengan percaya diri penuh, mengikuti lomba Angklung dengan kategori Solo.
"Senang, tadi tidak deg-degan saat di depan memainkan lagu dengan judul Bunda," ungkapnya.
Ratna Indajanti, yang merupakan ibu Jatayu mengaku sangat senang anaknya dengan sangat semangat mengikuti lomba ini.
"Kalau latihan lagi yang ini hanya 2 minggu lalu, itupun tidak setiap hari. Tapi Alhamdulillah anak saya bisa mengatakannya dengan baik," kata Ratna
Ratna juga mengatakan jika sebelumnya anaknya sempat menjuarai lomba angklung dengan kategori group di Progo dan mendapatkan juara 1.
"Kalau ikut even dan diundang sering. Itupun kelompok. Tapi kalau solo, ini baru yang pertama kali dilakukan anak saya," tambah Ratna. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/angklung_20180225_164518.jpg)