124 TK-SD se-DIY Ikuti Lomba Angklung
Lomba ini diadakan sebagai wadah menyalurkan bakat-bakat seni tradisonal yang dimiliki oleh anak anak.
Laporan Calon Reporter Tribun Jogja, Siti Umaiyah
TRIBUNJOGJA.COM - Sebanyak 124 peserta group Angklung TK dan SD se-DIY mengikuti lomba angklung yang diadakan Komunitas Angklung Kreasi.
Lomba bertema Bhineka Tunggal Ika ini, diadakan di Grand Puri Warerpark, Gabusan, Bantul, pada tanggal 25 Februari 2018, dari pukul 08.00 sampai 16.00 WIB.
Andi Hidayat, selaku Ketua panitia mengatakan tujuan diadakan lomba ini sendiri antara lain sebagai wadah menyalurkan bakat-bakat seni tradisonal yang dimiliki oleh anak anak.
"Kita ingin memperkenalkan dan melestarikan musik tradisional, terutama Angklung. Dengan mengadakan lomba ini, kami berharap bukan anak-anak yang ikut lomba saja yang tertarik, namun orangtua serta saudara yang ikut mengantarkan kemari," ungkap Andi saat ditemui Tribunjogja.com, Minggu, (25/2/2018).
Andi juga mengatakan jika komunitasnya sangat sering mengadakan perlombaan Angklung, dalam dari tahun selaku diadakan lomba Angklung sebanyak 2 kali.
"Kita selaku mengagendakan 2 kali setahun, namun ini malah tiga bulan berturut-turut karena membeludaknya peserta. Desember, Januari dan Februari," tambah Andi yang juga menjadi guru Angklung di 27 sekolah ini.
Lomba ini sendiri dibagi menjadi beberapa kategori.
Untuk anak TK terdapat kategori pemula dan lanjutan, sedangkan untuk SD hanya kategori umum.
Terdapat pula lomba solo serta group.
Untuk penilaian sendiri Andi mengatakan terdapat tiga kategori besar.
Pertama tempo, kedua barisan dan kerapian, ketiga aksesoris.
Sri Mulyani, selaku guru TK Prima Sanggar SKB, Bantul yang juga mendampingi murid-muridnya mengaku sangat penting memperkenalkan anak sejak dini dengan alat musik tradisional.
Baginya ini sebagian dari usahanya nguri-nguri kebudayaan.
Agar anak lebih mengenai musik tradisonal dan suatu saat nanti bisa terus melestarikannya.
"Bukan soal anak bisa atau tidak, yang terpenting adalah partisipasi dan semangat mereka. Karena kalau tanpa kedua hal tersebut, mereka hanya sekedar bisa dan belum tentu senang," ungkapnya.
Bagi Almast Izati Zulfah, yang merupakan guru di SDIT Al-Muthi'in Maguwo, Banguntapan, Bantul sangat mengapresiasi adanya perlombaan ini.
Menurutnya bukan hanya sekedar menang dan kalah dalam perlombaan ini.
Namun yang terpenting banyaknya orang yang ikut terluka dalam proses pelestarian seni tradisional Indonesia.
"Harus selalu ada regenerasi dalam menjaga kebudayaan kita, biar tidak diakui oleh negara lain seni yang memang benar-benar asli milik kita," ungkapnya.
Almast juga sangat senang anak didiknya dapat menyalurkan bakat mereka lewat seni tradisonal.
Jatayu Indra Nugraha, murid di kelompok bermain Start mengaku tidak grogi saat bermain.
Murid yang baru berusia 5 tahun ini dengan percaya diri penuh, mengikuti lomba Angklung dengan kategori Solo.
"Senang, tadi tidak deg-degan saat di depan memainkan lagu dengan judul Bunda," ungkapnya.
Ratna Indajanti, yang merupakan ibu Jatayu mengaku sangat senang anaknya dengan sangat semangat mengikuti lomba ini.
"Kalau latihan lagi yang ini hanya 2 minggu lalu, itupun tidak setiap hari. Tapi Alhamdulillah anak saya bisa mengatakannya dengan baik," kata Ratna
Ratna juga mengatakan jika sebelumnya anaknya sempat menjuarai lomba angklung dengan kategori group di Progo dan mendapatkan juara 1.
"Kalau ikut even dan diundang sering. Itupun kelompok. Tapi kalau solo, ini baru yang pertama kali dilakukan anak saya," tambah Ratna. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/angklung_20180225_164518.jpg)