Cerpen
CERPEN: Senjakala Buaya
Tentu kehadiran buaya itu menjadi masalah yang amat besar karena di musim kemarau ini sungai itu menjadi salah satu penopang pasokan air
Senjakala Buaya
Oleh Arga Y.P.
Sudah dua bulan terakhir ini, warga dusunku diresahkan oleh kehadiran buaya. Satu, dua, tiga, atau lebih, dan memang pada awalnya tidak ada seorang pun yang tahu pasti berapa jumlahnya. Yang pasti sungai yang terletak di sebelah timur dusunku, kini dihuni oleh buaya. Kemunculannya menimbulkan kegaduhan.
Tentu kehadiran buaya itu menjadi masalah yang amat besar karena di musim kemarau ini sungai itu menjadi salah satu penopang pasokan air di kala musim kemarau. Sumur-sumur warga biasanya sudah kering di pertengahan musim kemarau ini. Tepi sungai yang ditumbuhi rerumputan juga dimanfaatkan warga dusun untuk menggembalakan ternaknya.
Selain sungai itu, kebutuhan air juga ditopang oleh satu sumur tua yang tidak pernah mengering. Tapi tentu agak merepotkan harus mengantreuntuk menimba air sehingga warga yang malas atau tergesa-gesa lebih memilih memanfaatkan sungai yang tak pernah berkurang debitnya itu. Lagipula air sumurnya begitu dalam sehingga butuh banyak tenaga untuk menimbanya.
Terhitung ada empat peristiwa yang berkaitan dengan kehadiran buaya itu. Aku sendiri yang pertama kali mendapati perwujudan buaya itu. Waktu sore tiba, suara garengpung begitu riuh. Aku sedang meminum teh hangat sambil menghisap rokok kretek menunggu waktu maghrib, rutinitas sebelum menjalankan salat. Dari teras rumah aku pandangi jalanan yang kering berdebu.
Baca: CERPEN : Wanita dan Pria Tertidur
Aku melangkahkan kaki menuju masjid. Memang masih ada sekitar satu jam sebelum maghrib, tetapi biasanya beberapa bapak-bapak ada yang sudah berkumpul di depan masjid untuk sekedar mengobrol. Tidak, langkah kakiku justru aku ayunkan menuju sungai. Apa yang aku pikirkan? Entah. Beberapa warga yang aku lewati sekilas tampak menyapa, sayup-sayup terdengar. Aku hanya terdiam. Kesadaranku pulih ketika aku dapati keberadaanku di tepi sungai.
Langit sore itu berawan, namun matahari masih menampakkan dirinya. Cahaya kemerah-merahan bertemu hitam awan, sementara rasa penasaranku bertemu dengan rasa takutku. Sungai begitu tenang. Perasaanku gusar. Aku mendapati pemandangan yang mengagumkan sekaligus menakutkan. Di sisi timur sungai, samar-samar kulihat bayangan seorang perempuan tua berkebaya putih keluar dari hutan. Seluruh tubuhnya begitu jelas memantulkan warna langit sore, terlukis di rambut dan kulitnya yang pucat.
Dalam satu kedipan mata, perempuan tua itu sudah berubah menjadi buaya berwarna putih yang merangkak perlahan bagai matahari yang dengan tenang tenggelam. Buaya itu menyelam ke dalam sungai. Kulitnya yang kasar menjadi sedikit kemerahan seiring makin condongnya matahari. Perasaanku seketika menjadi kacau, antara ketidakpercayaan dan ketakutan. Sementara langit makin temaram dan aku bergegas lari.
Kemunculan buaya itu menghantui pikiranku. Masih antara percaya dan tak percaya, aku membiarkan pikiranku dalam kemelut selama beberapa hari. Segala hal tentang penampakan buaya itu aku simpan untuk diriku sendiri sampai tetanggaku yang lain juga melihat seekor buaya.
Baca: CERPEN: Ode Sepak Bola yang Tak Terbeli
Pengalaman kedua dialami oleh tetanggaku Marto. Marto mendapati sosok buaya ketika sedang menggembalakan sapinya di tepi sungai itu empat hari setelah pengalamanku. Usia Marto yang sudah cukup tua membuatnya malas untuk mencari rumput. Ketika sapi-sapinya mendekat ke sungai untuk minum, segera keluarlah seekor buaya dari air dan menggigit leher seekor sapinya. “Muooh, muooh…” Begitulah Marto memeragakan ketika sapinya diseret ke tengah sungai.
“Apakah buaya putih To?” tanyaku.
“Enggak Pak Kadus, warnanya hitam!”
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/cara-buaya-bertahan-hidup_2201_20180122_103544.jpg)