Ratu Simbol Legitimasi Awal Kekuasaan Mataram

Legenda ini mencapai puncak tertinggi karena pengaruh dinasti Mataram Islam.

Tayang:
Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Muhammad Fatoni
ist
Lukisan Nyi Roro Kidul 

Babad Dipanegara mengisahkan pertemuan antara Ratu Kidul dengan Pangeran Diponegoro sebanyak dua kali, yaitu pada tahun 1805 dan pertengahan Juli 1826.

Pertemuan pertama terjadi di Gua Langse,Pantai Parangtritis di selatan Yogyakarta, pada saat Pangeran Diponegoro tengah bersamadi sehingga Ratu Kidul tidak berkeingnan untuk mengganggu.

Pertemuan kedua berlangsung pada saat terjadinyaPerang Diponegoro (1825-1830). Pada pertemuan kedua, Ratu Kidul yang ditemani dua patihnya -yaitu Nyi Roro Kidul dan Raden Dewi- menawarkan bantuan dalam perang

Syaratnya, Pangeran Diponegoro bersedia memohon kepada Allah Ingkang Rabulngalimin agar Ratu Kidul diperkenankan kembali menjadi manusia.

Namun, Pangeran Diponegoro menolak dengan halus dengan alasan pertolongan hanya datang dari Hyang Agung sehingga ia tidak akan bersekutu dengan makluk gaib.

Prapto Yuwono MHum,  dosen sejarah dan budaya Jawa UI pernah menerangkan, mitos ini berkemungkinan diciptakan  sebagai cara legitimasi kekuasaan di wilayah Mataram pada saat itu yang juga meliputi pesisir laut selatan Jawa.

Diciptakan pula poros kekuasaanvv gunung Merapi-Keraton-Laut Selatan, sebagai bagian upaya menakut-nakuti rakyatnya agar tunduk pada pemimpin baru di tengah masyarakat Jawa kala itu yang masih kuat sebagai penganut animisme.

Bangunan kisah itu hingga kini masih dipercaya sebagian orang Jawa. Cerita tutur dan kuat aura mitologinya berulang mengisahkan kekuasaan Kanjeng Ratu Kidul di laut selatan.

Sang Ratu memiliki pembantu setia bernama Nyai atau Nyi Rara Kidul. Nyi Rara Kidul menyukai warna hijau dan dipercaya suka mengambil orang-orang yang mengenakan pakaian hijau yang berada di pantai wilayahnya untuk dijadikan pelayan atau pasukannya.

Karena itu, pengunjung pantai wisata di selatan Pulau Jawa, baik di Pelabuhan Ratu, Pangandaran, Cilacap, pantai-pantai di selatan Yogyakarta, hingga Semenanjung Purwa di ujung timur, selalu diingatkan untuk tidak mengenakan pakaian berwarna hijau.

Ketika teori bahwa Kanjeng Ratu Kidul ini kisah untuk melegitimasi kekuasaan Mataram, KPH Kusumoparastro mempertanyakan relevansinya dengan masa depan kelangsungan raja Mataram.

"Lha kalau nanti pemimpinnya Ratu trus bagaimana? Mosok ratu sama ratu?" tukas kerabat Puro Pakualaman ini sembari terkekeh. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved