Ratu Simbol Legitimasi Awal Kekuasaan Mataram
Legenda ini mencapai puncak tertinggi karena pengaruh dinasti Mataram Islam.
Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Babad Tanah Jawi mengisahkan penggal cerita tentang pertempuram Prambanan.
Kala itu Sultan Pajang Hadiwijoyo datang nglurug ke Mataram.
Ia hendak menumpas "putranya" Sutawijaya yang mendirikan kekuasaan baru di barat. Senopati memang sedang menaikkan kekuatan setelah membuka Alas Mentaok.
Sultan Pajang naik gajah disertai beribu-ribu prajuritnya. Sedangkan Senopati hanya punya 800 pengikut. Ki Juru Mertani menasihati Senopati agar tidak meladeni Sultan Pajang dengan peperangan.
Ia dipastikan akan kalah. Ki Juru Mertani meminta Senopati memohon kepada Allah SWT, meminta bantuan kekuatan Ratu Kidul. Ia sendiri akan meminta bantuan penguasa gunung Merapi.
Siasat cerdik dilakukan diam-diam oleh Senopati. Ia menumpuk kayu bakar di puncak-puncak perbukitan sepanjang selatan Prambanan, menyuruh dibakar jika waktunya tiba.
Ketika Sultan Pajang sampai pada keputusan menggempur Mataram, pada saat yang sama gunung Merapi meletus, menyemburkan abu dan pasir serta menimbulkan banjir batu di Kali Opak.
Di puncak perbukutan, lautan api menyala berkobar-kobar disertai sorak sorai dan dentang canang Ki Bicak, menimbulkan rasa takut hebat pada Sultan Pajang dan pasukannya.
Sultan Hadiwijoyo akhirnya memilih mundur ke Bayat, diikuti ribuan pasukannya. Demikianlah kekuasaan Senopati makin menjura dan Ratu Kidul pun disebut punya andil besar.
Legenda mengenai penguasa mistik laut selatan ini tidak diketahui pasti sejak kapan dimulai. Namun, legenda ini mencapai puncak tertinggi karena pengaruh dinasti Mataram Islam.
Sosok ini dianggap pelindung dan pasangan spiritual para raja Kerajaan Mataram. Panembahan Senapati (1586-1601 M), pendiri Kesultanan Mataram, dan cucunya Sultan Agung Hanyakrakusuma (1613-1645 M) menyebut Kanjeng Ratu Kidul sebagai mempelai mereka.
Di awal usahanya mendirikan kekuasaan di Mataram, Senopati melakukan tapa di pantai Parangkusumo.
Kekuatan spiritual Senopati lantas mengganggu kerajaan di Laut Selatan. Sang Ratu datang ke pantai untuk melihat siapa yang menyebabkan gangguan di kerajaannya. Saat melihat pangeran yang tampan, ia jatuh cinta dan meminta Senopati menghentikan tapanya.
Sebagai gantinya, sang Ratu penguasa alam spiritual di laut selatan setuju untuk membantunya dalam mendirikan kerajaan yang baru.
Untuk menjadi pelindung spiritual kerajaan tersebut, sang Ratu dilamar Senopati untuk menjadi pasangan spiritualnya serta semua penggantinya nanti, yaitu para raja Mataram.
Babad Dipanegara mengisahkan pertemuan antara Ratu Kidul dengan Pangeran Diponegoro sebanyak dua kali, yaitu pada tahun 1805 dan pertengahan Juli 1826.
Pertemuan pertama terjadi di Gua Langse,Pantai Parangtritis di selatan Yogyakarta, pada saat Pangeran Diponegoro tengah bersamadi sehingga Ratu Kidul tidak berkeingnan untuk mengganggu.
Pertemuan kedua berlangsung pada saat terjadinyaPerang Diponegoro (1825-1830). Pada pertemuan kedua, Ratu Kidul yang ditemani dua patihnya -yaitu Nyi Roro Kidul dan Raden Dewi- menawarkan bantuan dalam perang
Syaratnya, Pangeran Diponegoro bersedia memohon kepada Allah Ingkang Rabulngalimin agar Ratu Kidul diperkenankan kembali menjadi manusia.
Namun, Pangeran Diponegoro menolak dengan halus dengan alasan pertolongan hanya datang dari Hyang Agung sehingga ia tidak akan bersekutu dengan makluk gaib.
Prapto Yuwono MHum, dosen sejarah dan budaya Jawa UI pernah menerangkan, mitos ini berkemungkinan diciptakan sebagai cara legitimasi kekuasaan di wilayah Mataram pada saat itu yang juga meliputi pesisir laut selatan Jawa.
Diciptakan pula poros kekuasaanvv gunung Merapi-Keraton-Laut Selatan, sebagai bagian upaya menakut-nakuti rakyatnya agar tunduk pada pemimpin baru di tengah masyarakat Jawa kala itu yang masih kuat sebagai penganut animisme.
Bangunan kisah itu hingga kini masih dipercaya sebagian orang Jawa. Cerita tutur dan kuat aura mitologinya berulang mengisahkan kekuasaan Kanjeng Ratu Kidul di laut selatan.
Sang Ratu memiliki pembantu setia bernama Nyai atau Nyi Rara Kidul. Nyi Rara Kidul menyukai warna hijau dan dipercaya suka mengambil orang-orang yang mengenakan pakaian hijau yang berada di pantai wilayahnya untuk dijadikan pelayan atau pasukannya.
Karena itu, pengunjung pantai wisata di selatan Pulau Jawa, baik di Pelabuhan Ratu, Pangandaran, Cilacap, pantai-pantai di selatan Yogyakarta, hingga Semenanjung Purwa di ujung timur, selalu diingatkan untuk tidak mengenakan pakaian berwarna hijau.
Ketika teori bahwa Kanjeng Ratu Kidul ini kisah untuk melegitimasi kekuasaan Mataram, KPH Kusumoparastro mempertanyakan relevansinya dengan masa depan kelangsungan raja Mataram.
"Lha kalau nanti pemimpinnya Ratu trus bagaimana? Mosok ratu sama ratu?" tukas kerabat Puro Pakualaman ini sembari terkekeh. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/lukisan-nyi-roro-kidul_20180121_113533.jpg)