Kanjeng Ratu Kidul Fakta atau Mitos? Ini Dia Hasil Diskusinya di Pakualaman

Pemilik nama asli Sugeng Wiyono ini menyebut salah satu yang bisa jadi rujukan adalah pitutur leluhur berdasar naluri orang-orang kuno.

Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Muhammad Fatoni
ist
Lukisan Nyi Roro Kidul 

Merujuk ketentuan yang tidak bisa dibantah di Quran itu, dikaitkan dengan kehidupan Keraton Laut Kidul, menurut Kusumoparastro bisa menemukan konteksnya.

"Dunia jin itu ada, di sana tentu ada struktur tertentu seperti juga kehidupan manusia. Ada level penguasa tertinggi dan tingkat-tingkat bawahannya," lanjutnya.

Dari situlah KPH Kusumoparastro meyakini sosok Kanjeng Ratu Kidul itu fakta, bukan mitos. Namun, ia menduga tidak semua orang bisa melihat atau masuk ke wilayah di dunia sebelah itu.

Kusumoparastro selanjutnya mengaitkan keberadaan sosok dan kehidupan di Laut Kidul itu dengan riwayat pembangunan proyek strategis di sepanjang pesisir selatan Yogyakarta.

"Ini menjadi pemikiran saya, mengapa sejumlah proyek strategis besar di sana kok tidak lancar jalannya? Apakah tidak ada komunikasi sebelumnya dengan penguasa Laut Kidul?" kata Kusumoparastro retoris.

Ia juga mengritik sikap dan pandangan Sri Sultan HB X yang akan menjadikan pesisir selatan sebagai halaman depan DIY, namun menyebut Ratu Kidul hanya mitos belaka.

Pria sepuh yang kerap didapuk jadi juru bicara Puro Pakualaman ini mengingatkan agar pemimpin Jawa memiliki pandangan dan sikap yang tidak berbelok dari keyakinan para pendahulunya.

"Jika rujukannya Quran, dan di sana ada tentang dunia jin yang hidup berdampingan dengan manusia, tentu soal Ratu Kidul ini tentu jangan buru-buru mengatakan mitos," pintanya.

"Sebagai warga Puro yang memiliki hubungan dengan wilayah Adikarto, tentu saya prihatin dengan hambatan-hambatan yang terjadi dengan pembangunan di sana," tandasnya.

Sejumlah peserta dialog budaya turut menyampaikan pendapatnya pada diskusi ini. Ada yang menceritakan pengalaman anak dan kerabatnya yang pernah melihat sosok Kanjeng Ratu Laut Kidul di lepas pantai Parangtritis.

Sosok itu dicitrakan perempuan dewasa cantik, berkebaya hijau lengka dengan selendang dan mahkotanya, muncul di antara debur ombak lepas pantai Parangkusumo.

Citra ini sepertinya selaras dengan sosok penguasa Laut Selatan yang divisualkan dalam sejumlah lukisan foto dan film yang sudah pernah diproduksi. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved