Sisi Lain Makam Banyusumurup

Kesunyian di Lembah Makam Para Hukuman Raja

Letaknya di sebelah tenggara Pajimatan Makam Raja-raja di Imogiri, dipisahkan jurang, jalan, dan bukit menuju Mangunan.

Kesunyian di Lembah Makam Para Hukuman Raja
Tribun Jogja/ Setya Krisna Sumargo
Makam Banyusumurup 

Versi lain menyebut masjid didirikan bersamaan pembangunan makam Pangeran Pekik, kerabat dan pengikutnya. Ini terjadi pada masa kekuasaan Sunan Amangkurat (I), yang menggantikan Sultan Agung, ayahandanya yang mangkat.

Teori kedua ini agaknya lebih masuk akal karena masjid jadi kelengkapan utama sebelum pemakaman atau penziarahan. Makam Banyusumurup menjadi spesial karena dari riwayat sejarahnya memang khusus peruntukannya.

Makam ini jadi lokasi penguburan orang-orang penting dan masih kalangan berdarah biru yang dianggap membangkang atau melawan raja berkuasa, khususnya Amangkurat Tegalwangi (I).

Selain Pangeran Pekik yang putra Adipati Surabaya, dimakamkan pula perempuan muda yang kisahnya mengharubiru, yaitu Roro Oyi atau Roro Hoyi. Kisah Roro Oyi ini jadi sequel lanjutan cerita dramatis Ratu Malang yang dimakamkan di Gunung Kelir.

Kisah kedua perempuan malang ini berpusar di sekitar kehidupan Sunan Amangkurat (I) dan melibatkan trik intrik Adipati Anom, atau Pangeran Tejoningrat yang jadi Putra Mahkota, serta para elite di sekitarnya.

Pangeran Purbaya, yang terbilang kakek Putra Mahkota atau paman Sunan yang berkuasa, terlibat dalam intrik berdarah melibatkan Roro Oyi ini.

Dengan demikian pada satu masa sekitar 350 tahun lalu, makam Banyusumurup dijadikan kuburan massal korban hukuman raja akibat skandal Roro Oyi. Total jumlah yang dikubur di makam ini ada 52 jenazah dihitung dari penanda nisan yang ada.

Sebagian merupakan kuburan orang hukuman jauh sesudah masa Sunan Amangkurat (I) yang bergelimang darah. Termasuk makam Raden Ronggo Prawirodirdjo (III) yang amat terkenal karena memberontak pada masa Sri Sultan HB II.

Sesungguhnya Adipati Maospati-Madiun (1797-1810) ini melawan ekspansi VOC, bukan memberontak pada penguasa Mataram. Ia diburu pasukan VOC dibantu sekutu keraton, dan akhirnya terpojok dan gugur di Kertosono, Jawa Timur.

Jenazah menantu Sri Sultan HB II ini dibawa ke Keraton Yogyakarta, dan sesudah dipertontonkan kepada umum, dimakamkan di Banyusumurup, menyatu dengan kuburan para hukuman lain pada 1810.

Halaman
1234
Penulis: xna
Editor: ton
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved