Sisi Lain Makam Banyusumurup

Kesunyian di Lembah Makam Para Hukuman Raja

Letaknya di sebelah tenggara Pajimatan Makam Raja-raja di Imogiri, dipisahkan jurang, jalan, dan bukit menuju Mangunan.

Kesunyian di Lembah Makam Para Hukuman Raja
Tribun Jogja/ Setya Krisna Sumargo
Makam Banyusumurup 

Kunci makam memang disimpan di rumah Pak Mugi ini. "Kalau ada yang datang ya biasanya ke saya dulu karena yang tinggal paling dekat dengan makam ya saya," kata Mugi di rumahnya, Kamis (4/1/2018).

Sembilan abdi dalem lain tinggal di Giriloyo, dekat Pajimatan Imogiri. Selain jadi abdi dalem dan juru kunci makam, rata-rata mereka punya pekerjaan sampingan. Jika tidak bertani, berdagang, atau jadi pengrajin batik di Giriloyo.

Tugas pengabdian di Makam Banyusumurup juga didapatkan turun temurun di bawah koordinasi Keraton Yogyakarta dan BPCB DIY karena masuk bangunan cagar budaya. Secara rutin biasanya ada pertemuan dipusatkan di Makam Raja-raja Imogiri.

"Terutama jika ada acara besar atau tamu penting yang berkunjung. Kita akan kumpul di pajimatan. Sedangkan di hari-hari tertentu, semua abdi dalem akan berkumpul di tempat tugas masing-masing di Imogiri, Giriloyo dan Banyusumurup ini," jelas Mugi.

Hari-hari khusus yang biasanya ramai peziarah adalah Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon menurut hari pasaran Jawa. Di Banyusumurup, selain pasareyan Pangeran Pekik, ada situs penting lain yaitu Masjid Kagungan Dalem.

Baca: Namanya Mertolulut, Sang Algojo Keraton Mataram. Begini Kisah Seram Tentangnya

Masjid ini diduga seumuran, atau didirikan seumuran dengan pembangunan Makam Banyusumurup. Ada dua teori tentang kapan masjid ini dibangun. Ada yang berpendapat dibangun era Sultan Agung.

Kardi (78), warga Dusun Banyusumurup mendapat cerita legenda masjid ini erat kaitannya dengan pendirian sekaligus penamaan dusun lokasi. Konon, suatu ketika Sultan Agung dan pengikutnya sedang mencari lokasi untuk makam raja.

Sesampai di suatu perbukitan, mereka istirahat. Ada yang haus dan juga hendak salat. Karena tidak ada air di sekitar, mereka mengadu ke Sultan Agung. Lantas raja sakti itu berkata, tak lama lagi mereka akan melihat air (sumurup banyu).

Sultan Agung menancapkan tongkatnya ke tanah, dan mengucurlah air yang mengalir ke lembah. Tempat itu akhirnya dinamakan Banyusumurup. Sebuah masjid juga didirikan tak jauh dari mata air tersebut.

Halaman
1234
Penulis: xna
Editor: ton
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved