Tahukah Anda Ini Rahasia Karmawibhangga di Kaki Candi Borobudur!

Salah satu misteri dan kontroversi lain yang hingga kini terus bertahan di Borobudur adalah keberadaan teras terbawah yang kini terkubur bebatuan

Tayang:
Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Ikrob Didik Irawan
Tribun Jogja/Setya Krisna
Karmawibhangga di Kaki Candi Borobudur 

"Pada 1890/1891 dibuka sepenuhnya, semua panel relief difoto oleh Kasian Cepas, sesudah didokumentasikan lengkap, ditutup kembali," beber Yudi.

"Ketika balatentara Jepang datang, ada jenderal Jepang yang meminta lantai itu dibuka karena penasaran. Bagian yang dibuka itulah yang akhirnya dibiarkan sampai h psekarang," lanjut ahli candi asal Lampung ini.

Bagian lantai Karmawibhangga yang terbuka itu berada di pojok tenggara dari pintu masuk utama sesudah Taman Lumbini.

Begitu lepas dari pintu masuk dan naik ke selasar pertama, pengunjung bisa belok kiri ke arah pojok tenggara kaki candi.

Di situlah sejumlah panel relife Karmawibhangga dibiarkan terbuka, dan diharapkan memandu pengunjung bisa menyelami secara utuh Borobudur.

Kontroversi yang muncul dan bertahan hingga sekarang, mengapa bagian itu ditutup? Siapa yang menutup? Adakah sesuatu yang hendak ditutup-tutupi?

Karmawibhangga di Kaki Candi Borobudur
Karmawibhangga di Kaki Candi Borobudur (Tribun Jogja/Setya Krisna)

Yudi Suhartono dan Panggah Ardiansyah dari Balai Konservasi Borobudur yang hari- harinya bertugas memelihara dan merawat aset dunia ini, tak menampik kontroversi yang berkembang di tengah masyarakat ini.

"Kita tak memungkiri kontroversi di tengah masyarakat, dan sebagian para ahli. Sejauh ini setidaknya ada tiga pendapat yang berkembang," kata Yudi.

Pertama, ditutup karena ada konten-konten berbau pornografi di panel relief. Kedua, selain adegan seks, ada rupa kekerasan verbal yang dianggap terlalu vulgar.

Pendapat ketiga, kaki candi yang ada 163 panel relief Karmawibhangga ditutup karena alasan teknis struktur candi.

"Pendapat ketiga ini menurut saya yang paling masuk akal. Jika hanya karena alasan pornografi dan kekerasan, mengapa balok-balok batu yang dipakai menutup keliling sampai selebar tujuh meter," tanya Yudi.

"Saya yakini ini karena faktor teknis ada masalah struktur ketika candi itu dibangun. Bagian kaki bergerak karena tidak mampu menahan beban tubuh hingga puncak candi yang diletakkan menumpang di sebuah bukit ini," lanjut Yudi.

Kesimpulan itu juga diperkuat ada bagian-bagian relief yang tidak diselesaikan pembuatannya.

"Mungkin karena bergeser atau apa, sehingga bagian itu tidak diteruskan pembuatannya dan ditutup supaya tidak longsor," jelasnya.

Menurut Yudi Suhartono, panel relief di kaki candi atau lantai Karmawibhangga Borobudur ini selain memvisualkan isi kitab Budha tentang karma, juga melukiskan kebudayaan masyarakat kuno ketika candi itu dibangun.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved