Tahukah Anda Ini Rahasia Karmawibhangga di Kaki Candi Borobudur!
Salah satu misteri dan kontroversi lain yang hingga kini terus bertahan di Borobudur adalah keberadaan teras terbawah yang kini terkubur bebatuan
Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Ikrob Didik Irawan
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Candi Borobudur sudah jadi situs Warisan Budaya Dunia (World Heritage) sejak 26 tahun lalu.
Mahakarya arsitektur ini mendunia karena memang super bangunannya.
Tidak banyak candi-candi di dunia yang ukurannya segede Borobudur. Piramid Mesir dan beberapa kuil Maya dan Astec di Amerika Selatan barangkali bisa jadi pembandingnya dari sedikit yang ada.
Di Asia, kuil Angkor Wat di Kamboja jadi mahakarya lain walau tak sezaman dengan Borobudur. Kehebatan Borobudur tak pelak meninggalkan beberapa misteri dan kontroversi.
Heboh yang terulang beberapa waktu lalu adalah klaim matematikawan Islam, Fahmi Basya, yang meyakini Candi Borobudur adalah peninggalan Nabi Sulaiman.
Pendapat Fahmi Basya ini mengundang debat kusir dan olok-olok warga.
Data dan temuan arkeologis dan telaah disiplin ilmu lain yang bia dipertanggungjawabkan kebenarannya, sesungguhnya mementahkan klaim Fahmi Basya. Borobudur adalah peninggalan wangsa Syailendra yang Budha.
Candi dibangun pada abad 8/9 Masehi. Memang, hingga hari ini belum ditemukan bukti faktual berupa prasasti yang menunjuk persis kapan pembangunan hingga peresmian candi itu.
Namun ada banyak petunjuk prasasti yang menyebut bangunan suci di sebuah bukit yang selesai dibangun pada masa kekuasaan Samaratungga di era Mataram Kuno.
Salah satu misteri dan kontroversi lain yang hingga kini terus bertahan di Borobudur adalah keberadaan teras terbawah yang kini terkubur bebatuan di sekelilingnya.
Itulah lantai paling dasar atau Karmawibhangga. Nyaris tak banyak pengunjung umum yang mengetahui keberadaan lantai dan dinding dasar ini.
"Umumnya pengunjung datang ya langsung lurus naik ke puncak. Jarang ada yang berusaha membaca Borobudur sesuai urutan per lantai," kata Yudi Suhartono, Koordinator Pokja Doumentasi Balai Konservasi Borobudur beberapa waktu lalu.
"Padahal, di sinilah awal dari perjalanan kehidupan bertahap yang digambarkan di candi ini," imbuhnya. Lantai Karmawibhangga ditutup sejak akhir abad 18 oleh penguasa Hindia Belanda.
Pada 1885, seorang Belanda bernama JW Izzerman menemukan relief ini (Karmawibhangga).
Tertutup batu sekelilingnya sejak awal ditemukan, yang mengindikasikan batu penutup ini ada sejak Borobudur dibangun.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/karmawibhangga-di-kaki-candi-borobudur-5_20171213_190729.jpg)