Tak Mudah Petakan Sungai Bawah Tanah di Gunungkidul
MacDonald menyebutkan Sungai Bribin merupakan outlet dari sistem sungai bawah tanah berhulu di Ponjong.
Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Ari Nugroho
Pengajar UGM yang juga spesialis hidrogeografi bawah tanah, Ahmad Cahyadi MSi, pernah menyusun analisa mendalam tentang karakterisasi pelorongan di sistem sungai bawah tanah.
Studi kasusnya di aliran Kali Pindul ke arah hulu.
Menurut Ahmad Cahyadi, lorong-lorong sungai bawah tanah di kawasan karst tidak mudah dipetakan.
Kendalanya antara lain lorong sempit, ada kolam yang sangat dalam, atau lorong yang penuh air sepanjang musim.
Baca: Tetenger Keistimewaan Dibangun di Kawasan Karst
Kawasan karst seperti di Gunungkidul termasuk kawasan yang terus berkembang akibat dominannya proses pelarutan.
"Aliran air sulit diprediksi arah dan karakteristiknya membuat kawasan karst sering belum dikelola sebagaimana mestinya," tulis Cahyadi di paper penelitian tahun lalu.
Papernya itu disajikan pada pertemuan ilmiah tahunan Perhimpunan Ahli Air Tanah Indonesia di Bandung, 16-17 November 2016.
Masih menurut Cahyadi, tipe aliran di kawasan karst secara umum dibagi dua.
Pertama aliran air tanah melalui rongga antar butir batuan yang disebut diffuse.
Kedua aliran lewat celah atau lorong pelarutan yang disebut conduit.
Dari karakter kawasan yang terbentuk akibat pelarutan batuan karbonat dan batuan garam, menghasilkan kondisi yang ekstrem.
Permukaan kering, namun kaya air di bagian bawah permukaan.
Menurut Dr Tjahyo Nugroho Adjie MSc, pakar sungai bawah tanah, sistem pelorongan bawah tanah di kawasan karst relatif cepat terbentuk pada musim hujan karena sifat airnya yang asam karena tingginya kandungan CO2.
Tak mengherankan jika di wilayah karst Gunungkidul saja ada ratusan gua dan luweng besar maupun kecil.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/melihat-luapan-air_20171212_185725.jpg)