TribunJogja/

Tetenger Keistimewaan Dibangun di Kawasan Karst

Pembangunan penanda ini pun memanfaatkan JJLS yang akan dibangun di sana, dimana akan ada kelok 18.

Tetenger Keistimewaan Dibangun di Kawasan Karst
TRIBUNJOGJA.COM/DWI NORMA HANDITO
Jumpa pers Sayembara Desain Kawasan Terpadu Penanda Keistimewaan di Dinas Pariwisata DIY, Selasa (12/9/2017). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Dwi Nourma Handito

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Rencana lokasi pembangunan kawasan terpadu penanda keistimewaan di Parangtritis, Bantul berada di kawasan perbukitan dengan ketinggian bervariasi.

Kepala Dinas Pertanahan dan Tata Ruang DIY, Hananto Hadi Purnomo mengatakan lokasi yang akan dibangun masuk daerah karst. Meski masuk kawasan lindung, pembangunan di sana tetap bisa jalan.

"Nah kalau di situ mau dipakai pariwisata kawasan lindung itu boleh, walaupun pariwisata kegiatan budidaya, kegiatan budidaya di kawasan lindung itu boleh dengan catatan kegiatan tidak mengubah fungsi lindung kawasan tersebut," katanya di DPRD DIY, Rabu (13/9/2017).

"Kalau pemahaman kawasan lindung tidak boleh untuk apa-apa malah susah masyarakat, ketika itu mau dilakukan pariwisata, fungsi lindungnya masih tetap jalan," lanjutnya.

Terkait dengan rencana pembangunan yang disebut sebagai tetenger atau ikon baru ini, pihaknya sudah dilibatkan dalam koordinasi.

Pembangunan penanda ini pun menurut Hananto memanfaatkan JJLS yang akan dibangun di sana, dimana akan ada kelok 18.

"Kan ini memanfaatkan JJLS kelok 18 dibuat sedemikian rupa sehingga iso dinggo semacam rest area, nah kalau kita lihat kelok tujuh di Padang kan ada seperti itu, jadi itu jangan dipikirkan nanti pariwisata akan muncul hotel, kawasan untuk menarik orang untuk melewati ke sana," lanjutnya.

Diberitakan sebelumnya rencananya kawasan terpadu penanda keistimewaan akan dibangun di atas lahan seluas 17,15 hektar dengan ketinggian 208-305 meter diatas permukaan laut.

Posisinya berada di atas kelok 18 yang rencananya akan dibangun.

Terkait dengan status tanah, Hananto tidak tahu persis apakah tanah tersebut adalah tanah Sultan Ground (SG) atau bukan, namun di daerah sana banyak tanah SG.

Dan kemungkinan besar memang akan dibangun di atas SG dan pembebasan sudah dilakukan.

"Pembebasan ketok'e sudah, tinggal bangun saja, kalau dalane wes dadi kemudian teman teman Pariwisata baru mengemas kegiatan lebih lanjut supaya lebih manis lagi, intinya dalane dadi ndisik," katanya.(TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: dnh
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help