Besok, UGM Gelar Kongres Maritim II

Kongres tahun ini berfokus salah satunya kepada tujuh pilar dalam Kebijakan Kelautan Indonesia (KKI)

Penulis: Tantowi Alwi | Editor: Muhammad Fatoni

Laporan Reporter Tribun Jogja, Tantowi Alwi

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Menjelang peringatan Deklarasi Djoeanda yang dihasilkan dari perjuangan kedaulatan nusantara Indonesia, UGM kembali mengadakan Kongres Maritim pada 9-10 Desember 2017.

Kongres ini pertama kali diselenggarakan pada tahun 2014 lalu di tengah momen pergantian kepemimpinan nasional sebagai bentuk perhatian UGM atas pentingnya laut dan terabaikannya laut dalam pembangunan nasional.

Selain itu juga upaya untuk meningkatkan kesadaran bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa yang berbudaya maritim demi kemajuan bangsa.

Dalam penyelenggaraan kali ini, tema yang diangkat adalah “Kedaulatan Maritim untuk Kesejahteraan Rakyat: Mengawal Implementasi Kebijakan Kelautan Indonesia.

“Kongres Maritim ini memiliki dua tujuan, yaitu melihat kondisi maritim secara nasional dan yang kedua mengajak untuk berbicara masalah Jogja karena UGM pasti tidak bisa lepas dari isu di Jogja,” ujar sekretaris Dewan Guru Besar UGM, Koentjoro, Kamis (7/12) di Gedung Pusat UGM.

Secara nasional, ujar Koentjoro, kongres tahun ini berfokus salah satunya kepada tujuh pilar dalam Kebijakan Kelautan Indonesia (KKI) yang disahkan pada tahun ini.

Ketujuh pilar ini, di antaranya pengelolaan sumber daya kelautan dan pengembangan sumber daya manusia, tata kelola dan kelembagaan di laut, pengelolaan ruang laut dan perlindungan lingkungan laut, budaya bahari, serta diplomasi maritim.

Memahami berbagai tantangan kelautan dan kemaritiman Indonesia pasca ditetapkannya KKI ini, UGM memandang adanya usaha yang sungguh-sungguh untuk mengawal dan memastikan implementasinya.

Lebih jauh dari itu, UGM memandang perlunya upaya nasional lintas disiplin dan lintas institusi untuk terlibat aktif dalam mewujudkan cita-cita luhur Indonesia untuk menjadi poros maritim dunia.

“Dalam rangka itulah Kongres Maritim II sekaligus peringatan 60 tahun Deklarasi Djoeanda mendesak untuk diadakan dan UGM dengan penuh kesadaran mengambil peran itu untuk memfasilitasi pertemuan dan pergulatan berbagai gagasan yang dapat mewujudkan prinsip, pilar, dan kebijakan dalam KKI,” jelasnya.

Selain itu, dalam konteks daerah, ia mengutip perkataan dari Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, bahwa 'pintu' Yogyakarta saat ini menghadap ke selatan, dalam arti memprioritaskan Samudera Indonesia dan mengupayakan pengembangan maritim untuk Yogyakarta.

Di tengah perubahan ini, peran UGM menjadi penting untuk mempersiapkan masyarakat agar peka terhadap perubahan dan bisa menjadi pihak yang diuntungkan dari pengembangan tersebut.

“Namanya masalah pesisir bukan sekadar mengubah arah tapi juga mengubah perilaku dan tabiat masyarakat. Untuk itu, kami akan mengundang masyarakat pesisir selatan Jawa untuk terlibat dalam kegiatan ini,” kata Koentjoro.

Menurutnya, pelibatan masyarakat pesisir ini menjadi bentuk upaya UGM untuk mengantisipasi konflik yang mungkin terjadi di tengah perubahan besar yang akan terjadi.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved