Wacana Penerapan Tarif Parkir Progresif di Sejumlah Kawasan di Yogya Perlu Dikaji Ulang

Wisatawan tidak merasa kerepotan untuk berjalan dari kantong parkir menuju pusat keramaian seperti Malioboro.

Penulis: Agung Ismiyanto | Editor: Muhammad Fatoni
tribunjogja/rendikaferrik
Sirip-sirip parkir Malioboro ditertibkan dari parkir liar, tepatnya di depan Hotel Mutiara,Dagen, Malioboro, Selasa (5/4). 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Yogyakarta meminta pemerintah kota (Pemkot) Yogyakarta melakukan kajian yang baik dan benar sebelum menerapkan tarif progresif di beberapa zona wilayah ini.

Alih-alih untuk menekan kemacetan, jika tanpa kajian, justru dikhawatirkan membuat wisatawan enggan berkunjung ke Yogyakarta.

“Saya selalu mendukung segala bentuk penataan supaya tertib dan baik. Namun, keputusan (penerapan tarif progresif) ini dikaji secara baik dan benar,” kata Ketua DPD Asita DIY, Sudiyanto, Minggu (3/9/2017).

Dia menjelaskan, kajian yang dimaksud adalah terkait dengan dampak pada pariwisata di Yogyakarta. Apakah dengan diterapkannya kebijakan tersebut justru membawa dampak positif bagi wisatawan, atau sebaliknya karena mahalnya tarif parkir.

Pihak DPD Asita justru mengusulkan ada beberapa penambahan fasilitas pada pakir alternatif. Penambahan fasilitas dan kelayakan pada parkir di beberapa kawasan lain perlu dilakukan.

Termasuk, kesiapan shuttle untuk mengangkut wisatawan menuju tempat wisata di kawasan utama atau kawasan I.

“Semaksimal mungkin siapkan lahan parkir di kawasan Kota Yogya. Seandainya tidak ada lahan lagi, bisa bekerja sama dengan kabupaten lain di DIY untuk menyediakan lahan dengan win-win solution,” paparnya.

Selain menyiapkan kantong parkir, moda transportasi yang ramah lingkungan dan tanpa polusi harus disiapkan dari kantong parkir menuju pusat keramaian.

Sehingga, wisatawan tidak merasa kerepotan untuk berjalan dari kantong parkir menuju pusat keramaian seperti Malioboro.

Pertimbangan lain yang harus dipikirkan oleh Pemkot adalah tarif progresif ini apakah memberatkan bagi wisatawan. Pasalnya, lama kunjungan dari satu obyek wisata ke obyek wisata lainnya juga berbeda-beda.

“Misalnya mereka akan ke Malioboro butuh waktu lama karena belanja dan jalan-jalan. Jadi ini yang harus diperhatikan, “ jelasnya.

Jika Pemkot menerapkan tarif parkir progresif tanpa kajian, ujarnya, dikhawatirkan wisatawan akan mengalihkan tujuan ke obyek wisata lainnya. Untuk menerapkan kebijakan ini, kata dia, juga diperlukan kearifan. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved