Kisah Pria yang Berprofesi sebagai Jagal Sapi, Idul Adha Besok Dibooking buat Puluhan Ekor

Sebagai seorang jagal, dia harus bekerja disaat orang lain tengah beristirahat. Setiap malamnya dia bisa memotong tiga hingga empat sapi.

Penulis: dnh | Editor: oda
tribunjogja/dwi nourma handito
Susanto saat menunjukan pisau dan asahan pisau yang digunakannya setiap hari dalam bekerja sebagai pemotong atau jagal sapi, Senin (28/8/2017). 

TRIBUNJOGJA.COM - Wilayah Segoroyoso, Pleret, Bantul terkenal dengan sentra sapi, daging sapi yang dijual di pasar banyak berasal dari daerah ini.

Di daerah tersebut juga banyak warga yang berprofesi sebagai pemotong sapi atau jagal sapi.

Satu diantaranya adalah Susanto (45 tahun), pria yang sudah 20 tahun menggeluti profesi sebagai tukang jagal sapi.

Susanto menjadi satu dari puluhan atau bahkan lebih tukang jagal yang ada di sekitaran Segoroyoso, Susanto sendiri tinggal di Tegalrejo, Bawuran, Pleret.

Ketika ditemui Tribun Jogja, ia tengah berada di rumahnya, ia nampak habis beristirahat. Maklum, dia harus bekerja pada malam harinya, maka siang dan sore adalah waktunya dia mengumpulkan tenaga sebelum bekerja.

"Jam 11 nanti keluar rumah dan subuh sudah pulang di rumah," katanya.

Sebagai seorang jagal, dia harus bekerja disaat orang lain tengah beristirahat. Setiap malamnya dia bisa memotong tiga hingga empat sapi.

Kebutuhan daging segar yang siap untuk dipasarkan pada keesokan pagi menjadikan proses pemotongan dilakukan pada malam hari.

Sebagai seorang yang terlatih dan sudah menggeluti dunia jagal, untuk memotong satu sapi hingga selesai dan daging siap diedarkan cukup dilakukan dalam waktu sekitar 30 menit saja.

Namun jika sapi berukuran besar maka waktu yang dibutuhkan bisa satu jam.

Menurut Susanto, untuk memotong sapi setidaknya harus melibatkan tiga orang atau lebih dan setiap orang memiliki tugas sendiri sendiri.

Ada yang bertugas menangani bagian depan sapi, bagian belakang dan bagian yang membersihkan kotoran yang ada di perut sapi atau yang disebut "mbodot".

Pembagian ini menurutnya menjadikan pekerjaan menjadi cepat. "Seperti di travel, ada kenek ada juga sopir," ujarnya mengkiaskan sembari tertawa.

Menjadi seorang penjagal dan tahu teknik memotong sapi menurut Susanto adalah hal yang tidak mudah.

Susanto yang sebelum menjadi penjagal bekerja di Kalimantan ini mengatakan awalnya dia melihat proses pemotongan. Kemudian mencoba membantu hingga akhirnya bisa.

"Kalau motong sapi itu istilahnya karakter, kalau gak bisa ya gak bisa , sulit motong sapi itu," katanya.

Untuk didaerah sekitaran Segoroyoso dan sekitarnya, dia mengatakan dari 10 orang anak muda saat ini hampir 90 persennya adalah pemotong.

"Disini semua anak muda profesinya pemotong semua dari 10 orang mungkin cuma satu yang ndak, yang sembilan pemotong. Mungkin yang satu jadi pegawai negeri mungkin guru," katanya.

Sumber: Tribun Jogja
Mulai dari
Idul Adha
Halaman
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved