News Analysis
Psikolog UGM : Cegah Penculikan Anak dengan Saling Menjaga
Luka artinya anak merasa dia disakiti, merasa bahwa kenyamanannya kehidupan sehari-hari itu diganggu.
Penulis: dnh | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM - Apapun bentuknya selama itu kekerasan atau pemaksaan atau sikap atau perilaku yang tidak menyenangkan pada anak pasti akan membawa luka pada anak.
Luka artinya anak merasa dia disakiti, merasa bahwa kenyamanannya kehidupan sehari-hari itu diganggu.
Apalagi itu datang dari orang asing yang membuat anak merasa terancam keberadaanya. Misalnya dia jadi takut karena akan dijauhkan ke orang-orang yang dia sukai, atau mungkin dia merasa akan disakiti, itu semua membuat dampak luka psikologis pada anak, itu sudah jelas.
Terkait dengan dampak luka, luka itu akan berdampak namun tergantung dari seberapa besar dan seberapa berat lukanya.
Jadi anak itu sudah sempat dibawa atau sudah sempat dibawa ke dalam kendaraan apa belum, kalau dalam taraf kaget atau mungkin juga pelakunya dengan penampilan menakutkan atau tidak, itu nanti akan berpengaruh terhadap seberapa berat seberapa lama luka itu dapat disembuhkan.
Yang jelas kalau menghadapi anak-anak yang pernah atau menghadapi kejadian seperti itu dan mengalami trauma, orang orang dewasa di sekitarnya terutama orang tua dan orang-orang yang satu rumah atau yang dekat, itu semua adalah sumber yang menimbulkan rasa aman dan nyaman bagi anak.
Orang yang menimbulkan rasa aman dan nyaman adalah orang yang harus ikut serta mengembalikan rasa nyaman tersebut.
Misalnya saat dirumah selalu ada orang dewasa di sekitarnya dan mengajak beraktivitas. Atau mungkin mengajak anak melakukan kegiatan yang dia sukai seperti bermain.
Sambil orangtua mempersiapkan orang-orang disekitarnya, karena kita di negara timur seringkali saat ada anggota keluarga mengalami peristiwa seperti itu pasti tetangga sering nenggok, menyatakan prihatin dan simpati.
Yang seperti ini tolong bagi orang tua dipersiapkan, jangan sampai banyak yang bertanya yang bisa menimbulkan rasa ingat kembali dan rasa takut.
Lebih baik kita timbulkan kembali rasa nyaman dan aman bagi anak, sampai bertul-betul anak tidak merasa terancam lagi, baru sedikit sedikit mengajak anak untuk menceritakan peristiwa tersebut dengan bahasa anak.
Itulah kenapa pihak kepolisan atau pihak lain memiliki ketrampilan untuk memahami dunia anak. Jangan sampai pertanyaan-pertanyaan yang muncul justru menimbulkan ancaman.
Ada metode dan simbul yang membuat anak akan sedikit sedikit menceritakan apa yang dialami, dan tidak terburu-buru.
Sementara, untuk upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah, biasanya kejadian-kejadian kejahatan pada anak terjadi di rumah, di sekitar tempat tinggal, dan di sekolah, tempat bermain anak. Tempat tempat seperti itu seharusnya ada dari pengawasan dewasa.
Misalnya di sekolah, usai jam sekolah, anak tidak serta merta itu sudah beres. Pihak sekolah dalam era seperti ini di mana setiap orang bisa melakukan tindakan tindakan yang tidak baik, sama seperti saat pagi hari banyak yang menunggu di pinggir jalan, harusnya pulang sekolah bisa seperti itu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/penculikan-anak_20170117_202843.jpg)