Laku Hidup RM Sosrokartono, Soegih Tanpa Banda
Ada seorang putra Jawa yang dengan ekplisit mengobarkan perlawanan tepat di depan muka para kolonial
Penulis: Hendy Kurniawan | Editor: Muhammad Fatoni
Perang yang bengis dan penuh muslihat membuat Sosrokartono memilih menanggalkan profesi wartawan. Selepas Perang Dunia I, ia terpilih menjadi juru bahasa tunggal oleh Sekutu, lantaran memenuhi syarat sebagai seorang ahli yang menguasai berbagai bahasa Eropa namun bukan orang Eropa.
Dua tahun berselang, tepatnya pada 1920, Sosrokartono diangkat menjadi juru bahasa di Liga Bangsa-Bangsa atau Volken Bond (cikal bakal Persatuan Bangsa-Bangsa). Namun, dari sini dia mulai mengenal jika banyak diplomat dunia menyimpan kepalsuan. Pada satu sisi mereka membicarakan perdamaian. Tapi di sisi lain menginginkan peperangan yang sejatinya adalah saling menghancurkan demi satu kata yang terus-menerus dipuja, kuasa.
Pada memoar Mohammad Hatta, disebutkan jika Sosrokartono mendapat bayaran sebesar 1.250 Dollar Amerika Serikat saat menjadi jurnalis di sana. Tentu saja jumlah itu menjadi tak berarti ketika dia bergabung dengan sejumlah lembaga internasional di kemudian hari.
Tapi semua itu tak membuatnya tenang. Kenikmatan duniawi tak memberikannya apa-apa. Hingga akhirnya dia pulang ke Indonesia dan mengabdi kepada masyarakat sebagai seorang pandit di Wisma Dar Oes-Salam, Bandung, sampai akhir hayatnya tanpa memiliki istri dan anak pada 8 Februari 1952.
Pernah mendengar ungkapan Soegih tanpa banda, digdojo tanpa adji, ngloeroek tanpa bala, menang tanpa ngasoraken? Itu adalah salah satu saripati ajaran Sosrokartono yang juga terus didengungkan hingga kini, tapi semakin sedikit yang memahami. (Hendy Kurniawan)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/sosrokartono_20170224_191743.jpg)