Laku Hidup RM Sosrokartono, Soegih Tanpa Banda
Ada seorang putra Jawa yang dengan ekplisit mengobarkan perlawanan tepat di depan muka para kolonial
Penulis: Hendy Kurniawan | Editor: Muhammad Fatoni
"Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: lawan!"
ITU adalah penggal puisi Wiji Thukul bertajuk 'Peringatan' yang ditulis tahun 1986. Sampai saat ini, bait sajak penyair pelo ini terus didengungkan oleh para pelawan represi kekuasaan hingga kini.
Namun, 87 tahun sebelum 'Peringatan' ditulis Wiji, ada seorang putra Jawa yang dengan ekplisit mengobarkan perlawanan tepat di depan muka para kolonial yang menguasai tanah Hindia Belanda di timur jauh. Dia adalah Raden Mas Pandji Sosrokartono.
Kakak Raden Ajeng Kartini ini adalah orang Jawa pertama yang meraih gelar Docterandus in de Oostersche Talen di Belanda setelah sebelumnya keluar dari Polytechnische School di Delft karena merasa tak cocok. Dia berhasil menyelesaikan studi bahasa dan kesusastraan timur di Universitas Leiden dengan predikat summa cumlaude.
Syahdan, pada 29 Agustus 1899, Sosrokartono diundang sebagai salah satu pembicara pada Kongres Bahasa dan Sastra (Nederlands Taal-en Letterkundig Congres) ke-25 di Gent, Belgia. Pidatonya yang berjudul Het Nederlandsch in Indie atau Bahasa Belanda di Hindia Belanda adalah tamparan keras terhadap imperialisme.
Harry A. Poeze, dalam Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda, mencatatkan hikayat ini. Begini isi pidato yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia:
"Bangkitlah hai putra-putri Jawa. Serbulah bukit ilmu pengetahuan yang ada di depanmu. Sungguh jauh dari maksud saya untuk menjadikan kamu menjadi orang Belanda. Pertama-tama kamu harus menyadari bahwa kamu itu orang Jawa dan tetap orang Jawa. Kamu bisa saja menguasai kemajuan orang Eropa, tanpa mengorbankan kepribadianmu dan sifat-sifatmu. Kamu harus menguasai bahasamu dan di samping itu bahasa Belanda, tidak untuk menggantinya tetapi untuk memperkaya.
Tanaman membutuhkan air dan udara untuk pertumbuhannya, ia tidak berubah menjadi air atau udara, sedang ia tetap mengikuti jalan pertumbuhannya sendiri. Dengan tegas saya menyatakan diri saya sebagai musuh dari siapapun, yang berniat menjadikan kita orang Eropa dan menginjak-injak adat istiadat dan kebiasaan kita yang suci. Selama matahari dan bulan bersinar, mereka akan saya tantang!"
Esensi pidato ini adalah tuntutan kepada Belanda agar memperhatikan pendidikan rakyat tanah jajahannya. Ini adalah suluh perjuangan, yang kita tahu bersama, kemudian banyak tokoh yang merengkuh pendidikan dari Belanda kemudian menjadikannya bekal pergerakan kemerdekaan.
Hadi Priyanto dalam Sosrokartono De Javasche Prins, Putra Indonesia yang Besar menuliskan, Sosrokartono juga turut menyemai tunas kebangkitan nasional. Pada 15 November 1908 bersama mahasiswa lain dari Hindia Belanda mendirikan Indische Vereeniging, kemudian berubah menjadi Indinesische Vereeniging, dan tahun 1924 menjadi Perhimpunan Indonesia.
"Saat Indinesische Vereeniging mengirimkan buku yang berisi sumbangan pemikiran kepada Boedi Oetomo di Batavia, nama Sosrokartonotercatat sebagai tim redaksi penyusun buku (itu)," tulis Hadi.
Tokoh kelahiran Jepara, 10 April 1877--kelak menamai diri sebagai Mandor Kloengsoe--benar-benar menjadi bintang terang. Poliglot 17 bahasa asing dan sepuluh bahasa Nusantara ini selama 28 tahun mengembara di berbagai negara Eropa.
Kiprahnya di dunia internasional dimulai ketika menjadi penerjemah bahasa di Wina, Austria. Setelah itu dia berhasil menyisihkan belasan pendaftar posisi wartawan di surat kabar The New York Herald untuk bertugas melakukan kerja jurnalistik pada Perang Dunia I.
Pendar sinar namanya kian mencuat ketika berhasil menurunkan laporan perundingan perdamaian antara Jerman dan Prancis. Padahal perundingan di atas gerbong kereta api yang berhenti di tengah hutan Campaigne, Prancis, sangatlah rahasia. Pasalnya, hasil perundingan itu akan dibawa ke pertemuan resmi di Versailles.
Namun, The New York Herald sukses memuat lengkap isi perundingan itu. Kode bintang tiga di berita itu adalah tanda bahwa sang pemilik kode itu merupakan Sosrokartono. Dan wartawan lain pun paham siapa kreator di balik berita tersebut. Sampai saat ini tak ada petunjuk bagaimana Sosrokartono bisa berada di dalam perundingan itu. Apakah dia ditunjuk sebagai penerjemah lantaran kemampuannya menguasai bahasa Prancis dan Jerman? Itu masih menjadi misteri.
Perang yang bengis dan penuh muslihat membuat Sosrokartono memilih menanggalkan profesi wartawan. Selepas Perang Dunia I, ia terpilih menjadi juru bahasa tunggal oleh Sekutu, lantaran memenuhi syarat sebagai seorang ahli yang menguasai berbagai bahasa Eropa namun bukan orang Eropa.
Dua tahun berselang, tepatnya pada 1920, Sosrokartono diangkat menjadi juru bahasa di Liga Bangsa-Bangsa atau Volken Bond (cikal bakal Persatuan Bangsa-Bangsa). Namun, dari sini dia mulai mengenal jika banyak diplomat dunia menyimpan kepalsuan. Pada satu sisi mereka membicarakan perdamaian. Tapi di sisi lain menginginkan peperangan yang sejatinya adalah saling menghancurkan demi satu kata yang terus-menerus dipuja, kuasa.
Pada memoar Mohammad Hatta, disebutkan jika Sosrokartono mendapat bayaran sebesar 1.250 Dollar Amerika Serikat saat menjadi jurnalis di sana. Tentu saja jumlah itu menjadi tak berarti ketika dia bergabung dengan sejumlah lembaga internasional di kemudian hari.
Tapi semua itu tak membuatnya tenang. Kenikmatan duniawi tak memberikannya apa-apa. Hingga akhirnya dia pulang ke Indonesia dan mengabdi kepada masyarakat sebagai seorang pandit di Wisma Dar Oes-Salam, Bandung, sampai akhir hayatnya tanpa memiliki istri dan anak pada 8 Februari 1952.
Pernah mendengar ungkapan Soegih tanpa banda, digdojo tanpa adji, ngloeroek tanpa bala, menang tanpa ngasoraken? Itu adalah salah satu saripati ajaran Sosrokartono yang juga terus didengungkan hingga kini, tapi semakin sedikit yang memahami. (Hendy Kurniawan)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/sosrokartono_20170224_191743.jpg)