Ekspedisi di Benua Antartika, Geolog Ini Harus Tidur Beralaskan Batuan Runcing Bersuhu Ekstrem

Nugroho merupakan satu-satunya peneliti asal Asia Tenggara yang terpilih untuk mengikuti ekspedisi penelitian ke antartika sejak 27 November 2016.

Tayang:
Penulis: gil | Editor: oda
Ist
Geolog asal UGM Nugroho Imam Setiawan Ph.D saat melakukan penelitian di Benua Antartika. Nugroho merupakan peneliti satu-satunya dari Asia Tenggara dalam program Japan Antartic Expedition ke-58 (JARE58). 

TRIBUNJOGJA.COM - Setelah 17 hari melakukan penelitian lapangan di benua Antartika, Geolog asal UGM Nugroho Imam Setiawan Ph.D mengaku senang akhirnya bisa melakukan rutinitas manusia, yakni mandi.

Pasalnya, berada di lingkungan yang suhunya dibawah nol derajat, mandi menjadi aktifitas yang langka.

Mandi pun hanya bisa dilakukan ketika para peneliti Antartika berada di kapal.

"Setelah 17 hari fieldwork di lapangan dengan tiga lokasi berbeda, saatnya untuk istirahat satu hari di Kapal Shirase (kapal penelitian) kami. Akhirnya kami bisa mandi juga," ujar Imam dalam cerita tertulisnya kepada Tribun Jogja pada Sabtu (14/1/2017).

Nugroho merupakan satu-satunya peneliti asal Asia Tenggara yang terpilih untuk mengikuti ekspedisi penelitian ke antartika sejak 27 November 2016.

Selama tiga bulan, Nugroho akan meneliti batuan metamorf dalam program Japan Antartic Expedition ke-58 (JARE58), sebuah program riset dari Jepang dan bebas biaya.

Ia menceritakan, dari tiga lokasi penelitian masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan dari segi geologi, medan, iklim, dan lokasi basecamp tempat para peneliti membangun tenda penginapan.

Batuan yang sering ditemukan antara lain batuan metamorf (gneissik) dan granitoids (pluton maupun pegmatit) ataupun perpaduan keduanya (migmatit).

"Setiap harinya kami mengkoleksi 10-20 kilogram sampel batuan dengan jarak tempuh 5-10 kilometer," ungkapnya.

Nugroho juga menjelaskan tentang basecamp penelitiannya yang dibangun di medan yang cukup berat.

Basecamp sendiri dibangun dengan satu tenda besar untuk kegiatan bersama, semisal makan dan bekerja. Lainnya berupa tenda kecil untuk kamar peserta ekspedisi dan toilet.

"Kalau beruntung dapat tempat datar dengan alas pasir kasar hasil dari gerusan angin pada batuan. Karena tidak ada pilihan lain biasanya dapat alas batu-batu runcing dengan kondisi miring. Baru satu hari alas tenda dan matras kami sudah robek," tuturnya.

Selain medan basecampe, kondisi ekstrem di Antartika juga cukup membuat kelelahan para peneliti. Di Antartika saat ini sedang musim panas, namun suhunya antara minus 5 derajat hingga 5 derajat celcius.

Nyatanya, para peneliti bekerja seharian dengan suhu minus dua derajat ditambah dengan angin dingin dan hujan salju.

"24 jam non-stop matahari menghajar kami dan membuat wajah belang kehitaman walaupun sudah pakai sun-blok spf 50++ setiap hari. Kelembaban yang rendah membuat kulit di tepi kuku mudah mengelupas dan perih. Tapi rasa lelah itu tidak sebanding dengan pengalaman, ilmu, dan rasa kagum akan keagungan Tuhan," ungkap Dosen Geologi UGM tersebut.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved