Mungkin Fidel Castro Sedang Tertawa di Alam Baka

Kini Fidel Castro, Che Guevara, dan kamerad lainnya yang dijuluki Robin Hood dari Sierra Maestra mungkin bereuni di alam baka.

Penulis: Hendy Kurniawan | Editor: oda

TRIBUNJOGJA.COM - Cambang tebal, baju hijau, topi, dan kepulan asap cerutu adalah penggambaran ikonik Fidel Castro.

Pemimpin revolusioner Kuba yang menggulingkan pemerintahan Fulgencio Batista lebih dari setengah abad yang lalu, mengakhiri hikayatnya di usia 90 tahun.

Fidel Castro adalah duri bagi Amerika Serikat (AS), sekaligus salah satu teladan bagi para pemuja ideologi kiri di seluruh dunia.

Tapi juga musuh bagi warganya sendiri yang menentang kebijakan-kebijakannya, dan rela menjadi eksil di Miami, AS.

Ratusan orang pasukan gerilyawannya di bawah pimpinan Che Guevara, Camilo Cienfuegos, dan Jaime Vega yang mengalahkan ribuan tentara Batista adalah satu kisah epik pertempuran pascaera kolonialisme bangsa Eropa berakhir.

Dilahirkan dari keluarga kelas menengah, Fidel kecil sebenarnya menikmati kehidupan yang cukup menyenangkan.

Ayahnya yang seorang juragan tebu memiliki uang lebih dari cukup menghidupi Fidel dan lima adiknya, termasuk Raul di dalamnya, yang kelak menggantikan Fidel memimpin Kuba.

Ada sedikit cerita anomali dari tokoh bernama lengkap Fidel Alejandro Castro Cruz.

Semua orang tahu dia sangat membenci AS. Tapi masa kecilnya banyak dihabiskan menjadi atlet basket dan baseball di sekolah Katolik berasrama.

Anda tentu saja tahu kedua olahraga itu berasal dari negeri Paman Sam, negara adi daya yang dibenci sampai nyawanya tandas dari raga.

Pandangan revolusionernya mulai muncul ketika dia masuk ke fakulas hukum Havana University pada tahun 1945.

Penulis biografinya, Peter G Bourne menuturkan, "Sejak hari pertama masuk kampus, Fidel sudah tergila-gila dengan politik. Atmosfer kehidupan kampus yang agresif, kekerasan terorganisir, dan unjuk rasa yang menjadi faktor yang dianggap penting bagi kesuksesan mereka. Kelompok bandit mengendalikan apa yang terjadi dalam dunia politik, dan dalam beberapa kasus melakukan pembunuhan untuk mencapai tujuan. Dunia politik di kampus disadari merupakan batu lompatan yang ideal bagi karier yang akan mereka geluti setelah keluar dari kampus kelak, dan masuk dunia nyata." (A Pambudi, 2007: 15-16).

Kerusuhan di Bogota, Kolombia, merupakan pengalaman pergerakan yang bisa jadi menempa Fidel menjadi pemimpin yang 'menggila'.

Gerakan kiri pimpinan Jorge Elicer Gaitan menemukan momentumnya di saat sentimen antiamerika menguat saat itu, awal 1948, walaupun nama terakhir tersebut akhirnya tewas beberapa saat sebelum bertemu Fidel.

Peristiwa inilah yang kemudian memicu kerusuhan Bogota, di mana Fidel memegang peranan melakukan agitasi rakyat setempat untuk melakukan revolusi.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved