KOLOM 52

Mata Rantai Bullying, Trauma, dan Maut

Perilaku ini dapat menjadi suatu kebiasaan dan melibatkan ketidakseimbangan kekuasaan sosial atau fisik.

Penulis: oda | Editor: Muhammad Fatoni

Bunuh Diri dan Balas Dendam

Ilustrasi

Akumulasi dari dampak-dampak itu bisa jadi menimbukan dampak yang fatal dan berujung maut.

Dampak fatal dari tindakan bullying itu bisa berupa bunuh diri ataupun balas dendam yang dilakukan oleh korban yang mendapatkan perlakukan tersebut.

Dampak fatal tersebut dapat kita lihat dari beberapa contoh kasus yang terjadi di masyarakat, seperti yang muncul di luar negeri.

Salah satu contoh bullying yang berakhir dengan bunuh diri ialah kisah yang dialami Carlos Virgil asal Valencia, County, New Mexico, Amerika Serikat.

BACA : Inilah Enam Kisah Tragis Bullying yang Berujung Maut

Remaja 17 tahun ini diejek oleh teman-temannya karena berjerawat, memakai kacamata dan bahkan dianggap sebagai gay.

Sebenarnya penderitaan diketahui oleh ayahnya. Sang ayah sangat marah mengetahui apa yang menimpa anaknya.

Ia sampai menuntut pemerintah setempat untuk membuat UU anti-bullying. Pada tanggal 13 Juli 2013 saat ayahnya membahas RUU tersebut, Carlos justru menulis surat bunuh diri di Twitter.

Ia meminta maaf pada teman-teman yang telah membully karena tak mampu membuat seseorang bangga padanya. Setelah itu, Carlos nekat mengakhiri hidup.

Ada pula tindakan bullying yang tidak hanya merugikan atau menghilangkan nyawa korbannya, tetapi juga menyebabkan kematian orang lain.

Pada 16 April 2007 lalu, Seung-Hui Cho, seorang mahasiswa Virginia Tech melakukan penembakan massal di lingkungan perguruan tinggi tersebut, sebelum akhirnya bunuh diri.

Akibatnya, 32 orang dalam kampus mengalami luka tembak. Korban termasuk 27 siswa dan 5 dosen, 17 orang lainnya terluka.

Beberapa hari setelah kejadian tersebut, sebuah paket berisi rekaman video yang pelaku sempat kirim sebelumnya ke salah satu stasiun tv.

Video tersebut berisi, 'curhat' Cho tentang bullying yang ia alami di sekolah.

Belajarlah sebelum terlambat. Melihat dari kisah-kisah tersebut, mulai dari sekarang kita harus menghentikan perilaku bullying yang selama ini mungkin kita melakukannya tanpa sadar.

Sebagai orangtua dan orang dewasa kita juga perlu mengawasi perilaku anak kita dan mengontrol tontonan serta tempat mereka bergaul.

Bisa jadi anak-anak kita merupakan pelaku ataupun korban dari tindakan bullying.

Pihak sekolah pun tidak luput dari tanggung jawab untuk mengawasi anak didiknya, dan jika perlu menindak anak-anak yang memiliki perilaku bullying.

Pemerintah juga memiliki andil setidaknya melarang dan bahkan meniadakan tontonan yang mengandung tindakan bullying meskipun hanya berupa hiburan atau candaan semata. (obed doni ardiyanto)

Sumber: Tribun Jogja
Halaman
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved