KOLOM 52
Mata Rantai Bullying, Trauma, dan Maut
Perilaku ini dapat menjadi suatu kebiasaan dan melibatkan ketidakseimbangan kekuasaan sosial atau fisik.
Penulis: oda | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM – Pekan lalu muncul dugaan kasus perundungan (bullying) di wilayah Sleman, DIY.
Seperti yang telah diiberitakan Tribun Jogja, seorang siswa kelas 2 MI Al Kautsar, JAT (8), diduga menjadi korban bullying oleh teman satu sekolah setelah dua kali ditendang.
Akibatnya, pembuluh darah kemaluannya pecah dan saluran kencingnya tertutup luka yang muncul sebelumnya.
BACA : Dugaan Bullying Pelajar Madrasah, Kemenag Sleman Mengaku Belum Tahu
Keluar dari kasus yang terjadi di sekolah tersebut, sebenarnya apa definisi dari bullying?
Mengutip dari wikipedia.org, Bullying atau dalam bahasa Indonesianya diterjemahkan sebagai penindasan, adalah penggunaan kekerasan, ancaman, atau paksaan untuk menyalahgunakan atau mengintimidasi orang lain.
Perilaku ini dapat menjadi suatu kebiasaan dan melibatkan ketidakseimbangan kekuasaan sosial atau fisik.
Hal ini dapat mencakup pelecehan secara lisan atau ancaman, kekerasan fisik atau paksaan dan dapat diarahkan berulang kali terhadap korban tertentu, mungkin atas dasar ras, agama, gender, seksualitas, atau kemampuan.
Tindakan penindasan terdiri atas empat jenis, yaitu secara emosional, fisik, verbal, dan cyber.
Budaya bullying atau penindasan dapat berkembang di mana saja selagi terjadi interaksi antar manusia, dari mulai di sekolah, tempat kerja, rumah tangga, dan lingkungan.
Melihat dari pengertiannya itu, terkadang perilaku bullying ditujukan kepada pihak yang lemah ataupun pendiam, sehingga mereka hanya bisa diam tanpa berani membela diri.
Sedangkan bagi pelaku bullying, mereka akan merasa ‘kuat’ mungkin dari status sosial atau memiliki kekuasaan setelah melakukan perbuatan tersebut.
Namun bisa jadi, pelaku bullying tidak memahami apa yang mereka lakukan itu dapat berdampak buruk bagi korban, baik secara fisik maupun psikologis.
Mungkin diantara kita kadang melontarkan ejekan kepada teman sekantor atau teman bermain sebagai bentuk bercandaan.
Namun kita perlu berhati-hati. Tak semua candaan yang kita lontarkan kepada seseorang itu bisa diterima sebagai candaan bagi orang tersebut.
Bagi anak-anak atau remaja, perilaku bullying dapat meniru dari lingkungan mereka, mulai dari lingkungan keluarga, tempat bergaul, ataupun dari tontonan di televisi.
Mengingat sejumlah tontonan televisi saat ini yang isinya berupa komedi. Kita terkadang disuguhi becandaan yang berupa bullying.
Mereka terkadang mengejek salah satu pengisi acara tersebut, mungkin secara fisik dan perilaku mereka. Hal itu secara tidak sadar kita anggap sebagai hal yang biasa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/stop-bully_20161113_153104.jpg)