Warga Penggarap Tambak Udang di Gumuk Pasir Ingin Bertahan
Bedanya jika rencana penggusuran bangunan sampai kini belum ada kejelasan relokasi, untuk delapan tambak tersebut Pemkab telah menyediakan lahan.
Penulis: usm | Editor: oda
Laporan Reporter Tribun Jogja, Usman Hadi
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Tidak hanya puluhan bangunan yang diambang penggusuran di Gumuk Pasir, sebanyak delapan petak tambak udang yang digarap warga juga bakal diterbitkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul.
Bedanya jika rencana penggusuran bangunan sampai kini belum ada kejelasan relokasi, untuk delapan tambak tersebut Pemkab telah menyediakan lahan relokasi di Pedukuhan Ngepet, Desa Srigading, Kecamatan Sanden, Bantul.
Meski demikian, warga penggarap delapan tambak itu menilai jika relokasi yang diupayakan Pemkab hanya menguntungkan pemodal, sementara penggarap tambak yang notabene wong alit belum mendapatkan solusi kongkrit.
"Hanya PT (Perseroan Terbatas) atau investor saja yang dipindah, dapat lahan relokasi. Kalau warga penggarap memang disuruh pindah ke sana, tapi warga penggarap seperti kami tidak punya modal. Lagian tempat relokasinya juga jauh dari tempat tinggal kami (di Parangtritis)," jelas Ketua Kelompok Tambak Udang Tirta Mutiara, Watin, Sabtu (5/11/2016).
Memang dari delapan petak tambak udang yang digarap warga di Gumuk Pasir adalah milik investor atau pemilik modal, sementara warga setempat seperti Watin hanya sebagai penggarap tambak dengan sistem bagi hasil dengan pemilik modal.
Dengan adanya upaya penggusuran yang dilakukan Pemkab, Watin menyebut jika kini lahan penghidupan warga terancam, pasalnya jika tambak udang benar-benar direlokasi, maka warga tak bisa lagi membudidayakan udang di Gumuk Pasir.
Adapun jumlah warga yang selama ini menggantungkan hidupnya dengan menggarap delapan tambak itu sebanyak 22 orang, kesemuanya tergabung dalam kelompok Tambak Udang Tirta Mutiara yang dikelola Watin.
Selama ini mereka menggarap sekitar 1,9 hektare tambak di Gumuk Pasir yang dimodali investor, usaha ini telah berjalan kurang lebih dua tahun belakangan.
"Jadi warga yang mengelola, sekaligus yang mengamankan tambak terancam kehilangan pendapatan," keluh pria yang juga tercatat sebagai Ketua Aliansi Rakyat Menolak Penggusuran (ARMP) ini.
Lanjut Watin, warga penggarap tambak sampai saat ini mengaku masih tetap ingin bertahan.
Memang Pemkab telah membuka pintu relokasi bagi warga, namun tawaran itu menurut Watin hanya kedok dan hanya menguntungkan kalangan pemodal saja.
Sementara warga terdampak penggusuran seperti dirinya dikorbankan.
"Kalau warga disuruh pindah ke Sanden ya mana bisa, warga dapat modal dari mana. Kalau tawaran relokasi itu menguntungkan pemilik (pemodal) tambak, kalau warga suruh buat tambak di sana ya mana bisa," ungkapnya.
"Terus terang sampai saat ini kami belum punya solusi soal tambak," imbuhnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/tambak-udang_hhjdf_20160430_222319.jpg)