Setiap Anak Lahir dengan Potensi dan Keunikan Berbeda
Jangan pernah mengharapkan seorang anak mempunyai prestasi yang sama dengan anak lain karena potensi yang mereka miliki pasti berbeda.
Penulis: una | Editor: oda
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Setiap anak lahir dengan keunikan yang berbeda dengan anak lainnya. Jangan pernah mengharapkan seorang anak mempunyai prestasi yang sama dengan anak lain karena potensi yang mereka miliki pasti berbeda.
Hal tersebut dikemukakan Inisiator dan Pembimbing Komunitas Anak Gifted, Dr Drg Julia Maria Van Tiel kepada Tribun Jogja, Selasa (18/10/2016) saat ditemui seusai memberikan materi pada acara School for Parents Olifant School, 'Kenali dan Dampingi Anak Berbakat, Berpotensi, Superior Dan Gifted', di Meeting Room, H-Boutique Hotel Yogyakarta.
Orangtua terangnya, memiliki peran untuk membina dan mendampingi anaknya menjadi anak berprestasi. Untuk mencapai pada tahap tersebut maka orangtua terlebih dahulu harus mengenal keunikan dari anak.
"Prestasi anak tak bisa muncul begitu saja tetapi harus dibantu peranan orangtua. Orangtua harus bekerjasama dengan guru, jangan serahkan semuanya pada guru saja. Jangan nge-push anak secara keterlaluan karena anak bukan tempat uji coba, kita harus dukung sesuai dengan kapasitasnya," tambah Dr Julia.
Potensi anak bisa ada di bidang manapun. Tak hanya secara akademis, anak bisa saja memiliki potensi yang baik di bidang seni seperti melukis, menyanyi, dan bermain musik.
Kalau memang berminat terhadap bidang tersebut, maka orangtua bisa membantu mengembangkan minat tersebut secara bersama-sama dengan anak. Yang terpenting adalah tak boleh ada unsur pemaksaan.
Dalam penelitian neurologi perkembangan anak, tuturnya, otak anak dapat menerima pembelajaran berhitung dan menulis ketika anak menginjak usia sekitar 6 tahun bukan 4 atau malah 3 tahun.
Maka dari itu Dr Julia menegaskan agar orangtua tidak terlalu dini mengajarkan anak, karena masih ada perkembangan yang harus mereka lewati.
"Sosialisasi dulu, berkawan. Semua ada urutannya. Ajarkan anak mulai dari hal terkecil seperti mengantri, menghormati teman, saling membantu, bagaimana menerima tamu. Jangan diam dan ngumpet main gadget sendiri nanti kebiasaan. Sopan santun, seperti itu harus diajarkan. Itu mungkin terlihat sederhana tetapi kalau momen itu dilewati nanti anak akan terlihat seperti kurang sopan," tambahnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/festival-anak-satu-dalam-ragam_20160416_102402.jpg)