Proyek Revitalisasi Malioboro Kejar Target Pasang Kanstin Pedestrian

Kemungkinan dengan satu vendor saja target pemasangan kanstin tidak akan tercapai.

Penulis: Kurniatul Hidayah | Editor: Muhammad Fatoni
Ist
Root barrier terpasang di calon pedestrian Malioboro, berada di proyek tahap II Revitalisasi Malioboro, Minggu (28/8/2016). 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pihak Proyek Revitalisasi Malioboro Tahap I merasa bahwa mereka perlu mencari vendor lain untuk mengejar pemasangan kanstin, atau pembatas antara aspal dan area pedestrian Malioboro, dari depan Inna Garuda Malioboro hingga DPRD DIY, yang direncanakan selesai pada akhir Oktober ini.

Manajer Proyek Revitalisasi Malioboro Tahap I, Eri Purnomo menjelaskan bahwa saat ini mereka mendatangkan kanstin melalui satu vendor yang berada di Muntilan.

Berhubung vendor tersebut juga memproduksi teraso untuk lantai pedestrian, kemungkinan dengan satu vendor saja target pemasangan kanstin tidak akan tercapai.

"Kalau masih dibebani kanstin, kayaknya tidak mampu karena kapasitasnya terbatas," jelasnya kepada Tribun Jogja, Jumat (2/10/2016).

Eri menuturkan bahwa kebutuhan kanstin dari depan Inna Garuda Malioboro hingga DPRD DIY sekitar 266 buah. Dalam seminggu, mereka bisa menyediakan 44 buah, yang mana bila dikalkulasi akan butuh waktu yang lama agar bisa mencukupi kebutuhan kanstin tersebut.

"Mau berapa minggu kalau hanya satu vendor. Kami ambil sikap harus ada vendor lain untuk back up. Kami sudah survei, kemungkinan ambil di Tulungagung," tandasnya.

Ia mengatakan, sebenarnya di Yogya sendiri banyak vendor teraso. Namun yang sesuai dengan spesifikasi teraso untuk pedestrian Maliooro, adalah yang di Tulungagung. Di sana juga disebutkan Eri sebagai sentra teraso.

"Kemungkinan memang lebih mahal. Tapi yang penting targetnya kekejar," tegasnya.

Kanstin untuk pedestrian Malioboro terdiri dari dua jenis, berlubang dan pejal. Kanstin berlubang digunakan untuk lubang masuknya air yang menggenang di aspal saat hujan untuk masuk ke saluran drainase yang telah disediakan.

Sementara Kanstin Pejal digunakan sebagai pembatas sekaligus penahan area pedestrian dari benturan dari arah jalan.

Pada proyek revitalisasi Malioboro tahap I tersebut, di mana area kerjanya adalah dari depan Inna garuda Malioboro hingga depan Hotel Mutiara, dibutuhkan setidaknya 720 kanstin yang terdiri dari 600 kantin pejal dan 120 kanstin berlubang.

Sebelumnya, Asisten Bidang Keistimewaan Setda DIY, Didik Purwadi mengatakan Malioboro merupakan kor keistimewaan.

Sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) bahwa pada 2025 Yogyakarta memiliki mimpi, dan semua itu ada di Malioboro.

"Mulai dari pendidikan yang maju, kebudayaannya, dan daerah tujuan wisata. Tiga hal itu penciri jogja. Itu semua ada di Malioboro. Misi 2025 levelnya tidak hanya nasional, tapi internasional karena Malioboro punya nama di Asia Tenggara," terangnya belum lama ini.

Terkait penataan Malioboro, yang mengacu pada sumbu imajiner, Didik mengatakan bahwa hal tersebut perlu dilakukan secara perlahan karena menyinggung Malioboro artinya membicarakan banyak aspek yang kompleks.

"Misinya adalah mengembalikan Malioboro untuk pejalan kaki, bukan untuk transportasi. Tapi tidak bisa sekaligus, harus pelan-pelan. Saat ini, yang sudah terlihat adalah keberhasilan memindahkan parkir di sisi timur Malioboro," ujar Didik. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved