KOLOM52
Ayolah Juragan, Akur!
Timnas tampil hebat, masyarakat Indonesia tercengang, orang orang berbondong bondong memuji, sebagian besar berdoa dalam hati.
Penulis: Iwan Al Khasni | Editor: oda
Pembinaan Garuda Muda
Nyaris sama dengan timnas era Evan Dimas, pada pertengahan 2016, embrio timnas U-19 ditempa lagi di Yogyakarta, prosesnya panjang, tujuannya satu, tampil di piala AFF U-19 di Vietnam pada September, kali ini dipimpin pelatih kepala, Eduard Tjong.
Akhir kisah, anak asuh Edu tak 'seheboh' jaman Evan Dimas. Skuat Garuda muda malah "Hattrick" kalah dalam laga Piala AFF U-19.
Tak ada sorak sorai sambutan ketika mereka pulang di Bandara. 'Menyedihkan', skuat Garuda muda pulang ke Jakarta lseperti penumpang umum seusai pulang dari perjalanan wisata.
Ada apa dengan semua itu? berbagai faktor, termasuk kondisi organisasi PSSI belum jelas. Kita tahu, induk organisasi tertinggi sepakbola Indonesia kali ini sedang tanpa nahkoda, Sejak La Nyalla dibui karena jerat kasus korupsi.
Di luar persoalan itu, faktanya, ada nakhoda atau tidak, sistem pembinaan sepakbola di negeri ini seolah tak kunjung menemukan bentuknya, atau tepatnya, tak tahu bagaimana mencari cara yang konsisten melakukan pembinaan bibit muda.
Jika bicara pembinaan bibit muda di Indonesia, ternyata tak bisa hanya dipandang dari yang tampak mata. Pembinaan itu ada kaitannya dengan rumitnya persoalan yang melatarbelangi kondisi sebelum pertandingan dan sesudahnya.
Misalnya bagaimanan kondisi organisasi induknya, PSSI, kemudian melebar ke itung-itungan bisnis, pertimbangan modal, termasuk kemungkinan campur tangan kompromi para bandar.
Jadi kenapa Timnas U-19 era Evan Dimas begitu heboh tetapi Era Edu pemain muda tersungkur lebih cepat? Indra Sjafri lebih hebat? atau materi pemain U-19 era Edu kurang mumpuni. Tunggu dulu.