Hewan Kurban Sehat di Kota Yogya akan Diberi Label Khusus
Pada kesempatan itu jika hewan dianggap sehat dan memenuhi syarat, maka Disperindagkoptan akan memberinya label.
Penulis: mrf | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Untuk memastikan hewan kurban yang dijual di Yogyakarta dalam kondisi sehat dan memenuhi syarat sebagai hewan kurban, Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan Pertanian (Disperindagkoptan) Kota Yogyakarta akan melakukan pemantauan pada H-10 Idul Adha.
Pada pemantauan yang dilakukan di tiap kecamatan di Kota Yogyakarta, Disperindagkoptan akan dibantu oleh 125 mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM.
Pada kesempatan itu jika hewan dianggap sehat dan memenuhi syarat, maka Disperindagkoptan akan memberinya label.
“Label kalau hewan kurban itu memenuhi syarat. Kami sudah menyiapkan sekitar 4 ribu label untuk hewan kurban,” kata Kepala Seksi Pengawasan Mutu Komoditas dan Kesehatan Hewan, Disperindagkoptan Kota Yogyakarta, Endang Finiarti, Rabu (24/8/2016).
Menurutnya, hewan kurban yang sehat dapat dilihat dari kondisi fisiknya, mulai dari mata yang jernih, hidung, mulut, telinga yang tidak mengeluarkan lender, bulu mengkilat, dan nafsu makannya baik. Jika masyarakat tak yakin dengan kondisi hewan kurban, diharapkan untuk menghubungi pihaknya.
“Kami juga akan melakukan pemantauan di lokasi penyembelihan saat hewan belum disembelih, dan pemeriksaannya setelah disembelih. Tahun lalu ada 63 kasus cacing hati dari 149 tempat penyembelihan hewan,” imbuhnya.
Endang pun mengungkapkan, pihaknya saat ini tengah meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit antraks pada hewan kurban. Adapun cara yang dilakukan Disperindagkoptan yakni mewajibkan hewan kurban yang masuk ke Kota Yogyakarta dilengkapi dengan surat keterangan sehat dari daerahnya.
Dia menambahkan, sapi yang diwaspadai membawa penyakit antraks yakni sapi yang berasal dari Boyolali dan Sragen. Hewan berpenyakit antraks sendiri, menurut Endang dapat dilihat dari tubuh hewan yang tampak demam, dan mengeluarkan cairan merah kehitaman dari mulut dan hidung,
“Tapi sebagian besar sapi yang dijual di Yogyakarta berasal dari beberapa kabupaten di DIY, dan untuk kambing berasal dari Magelang, Purworejo, Ambarawa, dan Wonosobo,” jelasnya.
Kepala Disperindagkoptan Kota Yogyakarta, Lucy Irawati mengaku, pihaknya sudah memberi sosialisasi terkait pemilihan hewan kurban yang baik dan memenuhi syarat, termasuk di dalamnya proses penyembelihan yang baik. Pun menurutnya sosialisasi itu tak hanya dilakukan pihaknya.
“Lembaga lain juga melakukan sosialisasi itu. Ada banyak permintaan dari instansi hingga masjid untuk mensosialisasikan penyembelihan hewan kurban,” tutup Lucy. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/pasar-sapi-sleman_20160815_205714.jpg)