LIPSUS: PSG Andalkan Event, XT Square Tertolong De Mata dan De Arca

Jarang pembeli di setiap harinya kecuali jika ada acara besar yang kebetulan digelar di sana. Omzet pun tidak menentu.

Penulis: dnh | Editor: Ikrob Didik Irawan

Laporan Reporter Tribun Jogja, Dwi Nourma Handito

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL ‑ Tini, warga Palbapang yang bekerja di salah satu kios atau ruang pamer kerajinan batik di Pasar Seni Gabusan (PSG) Kabupaten Bantul duduk tepekur di depan kiosnya. Sepekan sebelum Lebaran, situasi di PSG sangat sepi.

Saat itu, jarum jam menunjukan pukul 13.00 lebih. Tempat parkir pengunjung PSG yang sangat luas pun terlihat sangat lengang. Tini pun berteman kesunyian.

"Kalau hari‑hari seperti ini hanya tletik‑tletik (jarang‑jarang yang beli) mas. Baru kalau ada acara seperti Bantul Expo ramai," aku Tini.

Tini sudah lima tahun bekerja di PSG yang dibangun pada 2004 itu. Ia tergabung dengan sebuah LPK atau lembaga pelatihan dan ketrampilan yang produknya dijual salah satunya melalui showroom yang ada di PSG.

Kondisi PSG saat ini menurutnya sama dengan kondisi lima tahun yang lalu saat dirinya mulai bekerja di sana.

Jarang pembeli di setiap harinya kecuali jika ada acara besar yang kebetulan digelar di sana. Omzet pun tidak menentu.

"Satu bulan tidak tentu, kadang hanya dua juta, kadang lima juta, kadang kalau pas ramai seperti Bantul Expo bisa sampai delapan juta," kata Tini yang mengatakan pembeli kebanyakan relasi pemilik LPK yang ia ikuti.

Sentra Kerajinan

PSG dibangun dengan tujuan sangat baik, yakni tempat atau sentra kerajinan Kabupaten Bantul. Pengguna showroom pun diwajibkan warga Bantul. Tidak hanya batik, beragam kerajinan ada di sana termasuk gerabah.

Dalam satu tempat, pengunjung dapat menemukan aneka kerajinan. Namun, PSG justru kurang dilirik para pengunjung atau wisatawan yang datang ke DIY utamanya ke Bantul.

Meskipun dari catatan pengelola PSG ribuan pengunjung datang tiap bulannya, data yang diterima Tribun dari awal tahun hingga Mei 2016, atau dalam lima bulan terakhir, tercatat 26 ribu pengunjung.

Manajer PSG, Wiwid Dananto mengatakan, sebenarnya konsep PSG adalah untuk mendekatkan produsen dengan buyer atau memutus rantai dan tidak harus melalui trader. Namun berjalannya waktu itu tidak bisa berjalan.

Lebih lanjut ia mengatakan memang selama ini banyak pembeli atau wisatawan dan pelaku wisata yang belum mengetahui secara pasti apa itu PSG. Bahkan menurutnya orang selama ini memandang PSG hanya gong dan pesawat, dua ikon yang terpasang di depan pasar.

"Dari beberapa biro perjalanan yang kami datangi mereka terkejut. Mereka mengira Pasar Seni Gabusan cuma itu (gong dan pesawat), setelah diberi brosur mereka tahu ternyata luas," ujar Wiwid ditemui belum lama ini.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved