LIPSUS: Industri Kecil di DIY Banyak yang Belum Olah Limbah

Industri besar, menengah dan kecil seharusnya memiliki dokumen lingkungan, dimana hal tersebut sebenarnya adalah sebuah kewajiban.

LIPSUS: Industri Kecil di DIY Banyak yang Belum Olah Limbah
bogorwatch.com
Ilustrasi 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Industri besar, menengah dan kecil seharusnya memiliki dokumen lingkungan, dimana hal tersebut sebenarnya adalah sebuah kewajiban.

Hal tersebut disampaikan Kasubid Pengendalian Pencemaran Air, Tanah dan B3 BLH DIY, Reni Anggraeni.

Dokumen lingkungan disesuaikan dengan jenis usaha atau industri. Dokumen pabrik besar dan industri laundry rumahan tentu akan berbeda.

Seperti AMDAL (Analisis Dampak Lingkungan) untuk perusahaan besar, kalau tidak wajib AMDAL maka harus memiliki UKL UPL (Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup).

Dan untuk industri kecil seperti laundry atau restoran yang skalanya tidak wajib UKL UPL maka harus memiliki SPPL (Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup).

Perusahaan yang menghasilkan limbah wajib melakukan treatment, dan wajib memenuhi baku mutu sebelum dibuang ke lingkungan.

Namun, ia mengatakan bahwa ada masalah di DIY, dimana tidak semua industri adalah industi menengah ke atas. Namun juga ada industri kecil.

Ia mengakui industri kecil seperti pabrik tahu dan tempe banyak yang belum memiliki treatment limbah.

“Itu yang menjadi dilematika, bagaimana membikin treatment, untuk modal aja tidak ada. Kondisinya mungkin berbeda di luar Jogja, seperti daerah Industri di Jakarta misalnya, kamu harus seperti ini aturannya,” keluh Reni.

Terkait dengan solusi, menurutnya pemerintah sudah mencari dan memberikan solusi dengan adanya IPAL Komunal.

Namu lagi-lagi ada kendala karena IPAL tersebut juga memerlukan SDM untuk mengoperasionalkan dan ada biaya perawatan.

Sementara terkait dengan industri skala kecil menurutnya kewenangan ada di BLH Kabupaten/Kota.

“Tetapi paling tidak tahu tempe kami kalau tidak salah informasi banyak bantuan IPAL komunal untuk tahu tempe. Di Bantul dan Kota banyak, itu artinya mengakomodir industri skala kecil, hanya saja itu harus efektif, karena harus ada yang mengoperasionalkan, harus paham bagaimana caranya,” katanya. (tribunjogja.com)

Penulis: dnh
Editor: dik
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved