Lipsus Melacak Makam Pilot Dakota

Alasan Pilot Dakota yang Ditumpangi Adisutjipto Dimakamkan di Yogya

Atas permintaan Konsulat Jenderal Inggris di Batavia, Alexander Constantine dimakamkan di Yogyakarta dan dengan cara agama Kristen.

Penulis: dnh | Editor: Ikrob Didik Irawan
Tribun Jogja/Hendra Krisdianto
Kondisi makam Pilot Dakota dan Co Pilot, Alexander Noel Constantine dan Roy Lance Hazlehurst saat ini di TPU Sasanalaya, Kota Yogyakarta. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Petunjuk bahwa pilot Australia, Alexander Constantine dimakamkan di Yogyakarta juga terlacak dari dokumen yang dibawa Michael yang ia dapatkan dari Arsip Nasional Australia. Dalam dokumen itu disebutkan alasan kenapa dahulu warga negara asing tersebut dimakamkan di Yogyakarta.

Hal tersebut tertulis dalam sebuah surat dengan kop Departement of External Affairs Canberra, tertanggal 8 September 1947.

Atas permintaan Konsulat Jenderal Inggris di Batavia, Alexander Constantine dimakamkan di Yogyakarta dan dengan cara agama Kristen.

"A Reuters report of the burial of the victims stated that at the request of the British Consul General, Batavia, The British victims were buried at Jogjakarta in accordance with Christian rites, beacuse there no possibility of bringing the remains to Batavia," bunyi dari paragaraf keempat dalam surat tersebut.

Setelah dirunut, Constantine memang tercatat sebagai pilot yang menerbangkan pesawat Dakota VT‑CLA yang jatuh di Desa Jatingarang, Kelurahan Tamanan, Kecamatan Banguntapan, Bantul atau dekat Desa Ngoto pada 29 Juli 1947.

Tanggal jatuhnya pesawat yang ditembak oleh dua pesawat pemburu P‑40 Kitty Hawk milik Belanda tersebut bahkan ditetapkan sebagai Hari Bakti AURI.

Dalam Jatuhnya pesawat tersebut menyebabkan hampir semua penumpang tewas. Putra terbaik bangsa gugur dalam serangan yang dilakukan pada sore hari ini. Komodor Muda Udara Agustinus Adisutjipto, Komodor Muda Udara Prof.Dr. Abdulrachman Saleh dan Opsir Muda Udara I Adisumarmo gugur akibat peristiwa ini.

Selain ketiga orang tersebut, turut tewas pilot pesawat berkebangsaan Australia Wing Commander Alexander Noel Constantine beserta istrinya, serta co pilot berkebangsaan Inggris Squadron Leader Roy Hazlehurst. Korban tewas lain adalah teknisi berkebangsaan India, Bhida Ram dan Zainal Arifin seorang wakil perdagangan Republik Indonesia di Singapura.

Saksi hidup

Sementara, seorang selamat adalah R. Abdul Gani Handonotjokro yang saat kejadian duduk di bagian ekor pesawat. Di mana ekor pesawat adalah bagian yang masih utuh dan tersisa dari peristiwa 1947.

Penghargaan tertinggi pun diberikan kepada para korban, seperti ditetapkannya Komodor Muda Udara Agustinus Adisutjipto, Komodor Muda Udara Prof Dr Abdulrachman Saleh dan Opsir Muda Udara I Adisumarmo sebagai pahlawan nasional. Selain nama‑nama mereka diabadikan menjadi nama Pangkalan Udara dan nama jalan.

Sementara itu korban warga negara asing mendapatkan perlakukan berbeda di negaranya.

Menurut Michael Kramer, nama Alexander Noel Constantine tidak banyak diketahui oleh warga Australia.

Bahkan, menurutnya pemerintah Australia tidak terlalu peduli dengan sosok Alexander Noel Constantine, terbukti makamnya saat ini tidak terawat.

Michael pun mengaku sudah mencoba melaporkan perihal makam Constantine ke Kedutaan Besar Australia yang berada di Jakarta.

Berdasar dari laporan yang dibuat Tribun Jogja pada 2013 kemarin, belum lama ini Michael memberi tahu pihak Australia bahwa ada titik terang terkait makam Constantine yang selama ini menjadi misteri keberadaanya.

"Saya sudah menyampaikan ke atase pertahanan Kedubes Australia, tentang informasi makam Constantine. Saya juga mencoba meminta AURI untuk rekomendasi," ujarnya. (tribunjogja.com)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved