Menyusuri Jejak Komikus Jogja Paska Reformasi

Penerbit Elexmedia membanjiri pasar dengan menerbitkan komik Jepang. Beberapa di antaranya komik yang ditujukan untuk lelaki dewasa.

Penulis: rap | Editor: oda
tribunjogja/riezkyandhika
Komik lokal. (ilustrasi) 

Perkumpulan ini pun kemudian melahirkan majalah komik bersambung bernama ‘Wook Wook’. Perkumpulan tersebut kemudian menjadi akar dari berdirinya Forum Komik Jogja (FKJ).

Setiap bulannya forum ini menggelar acara ‘Kumpul Komik’ yang berisi diskusi, presentasi, dan kegiatan lainnya.

Menurut Kharisma di era selanjutnya komik lokal kemudian merambah ke pasar ‘teenlit’ lewat ‘Kambing Jantan’ karya Raditya Dika.

Beberapa penerbit pun kemudian mengikuti pola tersebut. Ia berujar bahwa banyak komikus yang berkarya untuk memenuhi kepentingan pasar, meski idealnya ialah komikus bisa membentuk pasarnya sendiri.

Namun keadaan yang paling umum ialah komikus mempunyai pekerjaan lain untuk bisa membuat komiknya sendiri.

“Di era saat ini para komikus mesti memiliki fanbase nya sendiri yang mereka kelola dari sosial media mereka,” ujar pengarang ‘God You Must Be Joking’ ini. (tribunjogja.com)

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved