Menyusuri Jejak Komikus Jogja Paska Reformasi
Penerbit Elexmedia membanjiri pasar dengan menerbitkan komik Jepang. Beberapa di antaranya komik yang ditujukan untuk lelaki dewasa.
Penulis: rap | Editor: oda
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Dunia komik nasional pernah memasuki masa kejayaannya, dan paska reformasi ketika terjadi perubahan di segala bidang, industri komik pun mengalami perubahan.
Di era tersebut banyak bertumbuhan komik yang diproduksi secara mandiri. Di satu sisi, penerbit Elexmedia membanjiri pasar dengan menerbitkan komik Jepang. Beberapa di antaranya komik yang ditujukan untuk lelaki dewasa.
Banyak di antara anak-anak muda yang kemudian menggemari komik-komik tersebut, begitu juga di Yogyakarta.
Kharisma Jati, satu di antara komikus Yogyakarta yang telah menerbitkan banyak karya ini pun menjadi penggemar komik di era tersebut.
Kedua arus komik, baik yang beredar di bawah tanah (baca: komik independen), maupun komik dewasa tersebut kemudian mempengaruhi karya-karya Kharisma selanjutnya.
Tahun 2003 Gramedia sempat mendirikan brand dengan nama Koloni (Komik Lokal Indonesia). Terbitan Koloni ini memiliki kualitas yang tidak kalah saing dengan komik produksi Jepang.
Menurut Kharisma saat ini muncul nama-nama komikus asal Yogyakarta, namun kurang terekspos, karena masih tenggelam oleh komik Jepang. Mereka di antaranya; Matto, Oloysius Alfa, Fajareka, dan Bayu Harditama.
Pada 2007 digelar acara Konde (Komik Indonesia Satu Dekade) di Jakarta. Lewat acara tersebut para komikus dari berbagai daerah kemudian saling berjejaring.
Menurut Kharisma, usaha menyatukan para komikus yang tersebar dari berbagai penjuru tersebut dilakukan lewat sebuah kompilasi komik.
Pada acara tersebut, lanjutnya, juga sempat meluncurkan komik gratis yang hanya dirilis satu seri, komik tersebut berjudul ‘Komedo’.
Pada era maraknya sosial media, tepatnya 2008 komikus mulai banyak yang memanfaatkan fitur di internet seperti multiply, dan blog sebagai portfolio karya mereka.
Pada era facebook persebaran komik lewat sosial media lebih meluas lagi, menurut komikus Kurnia Harta Winata, di era tersebut juga dibarengi dengan munculnya komik Beni & Mice yang berhasil menyedot perhatian publik.
Menurut Kurnia, editor komik yang terpengaruh Beni & Mice mulai mencari bibit baru lewat sosmed.
“Saat inilah pola industri komik nasional mulai berubah,” ujar komikus yang akan menerbitkan ‘Kibal Kibul Motivasi’ pada Mei ini.
Pada 2012 seorang editor dari Jakarta mempertemukan Kharisma Jati dengan Lesehan Studio. Sejak saat itu mereka membuat inisiasi untuk berkumpul dan menjaring komunitas lain, mulai dari komunitas SMA, kampus, dan lainnya.
Perkumpulan ini pun kemudian melahirkan majalah komik bersambung bernama ‘Wook Wook’. Perkumpulan tersebut kemudian menjadi akar dari berdirinya Forum Komik Jogja (FKJ).
Setiap bulannya forum ini menggelar acara ‘Kumpul Komik’ yang berisi diskusi, presentasi, dan kegiatan lainnya.
Menurut Kharisma di era selanjutnya komik lokal kemudian merambah ke pasar ‘teenlit’ lewat ‘Kambing Jantan’ karya Raditya Dika.
Beberapa penerbit pun kemudian mengikuti pola tersebut. Ia berujar bahwa banyak komikus yang berkarya untuk memenuhi kepentingan pasar, meski idealnya ialah komikus bisa membentuk pasarnya sendiri.
Namun keadaan yang paling umum ialah komikus mempunyai pekerjaan lain untuk bisa membuat komiknya sendiri.
“Di era saat ini para komikus mesti memiliki fanbase nya sendiri yang mereka kelola dari sosial media mereka,” ujar pengarang ‘God You Must Be Joking’ ini. (tribunjogja.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/komik-lokal_20160502_180748.jpg)