PKL Malioboro Siap Ditata, Tapi Menolak Penggusuran

PKL yang tergabung dalam Paguyuban Kawasan Malioboro menolak penataan yang dilakukan dengan penggusuran.

Penulis: Rendika Ferri K | Editor: Muhammad Fatoni

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Rencana penataan kawasan Malioboro menimbulkan keresahan di kalangan pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di sekitaran Malioboro.

Pihak PKL yang tergabung dalam Paguyuban Kawasan Malioboro menolak penataan yang dilakukan dengan penggusuran.

Predisium Paguyuban Kawasan Malioboro, Sujarwo, menuturkan, pihaknya tidak menolak rencana penataan kawasan Mallioboro yang akan dilaksanakan oleh Pemprov DIY, tetapi ia meminta penataan nantinya dilaksanakan dengan tanpa disertai penggusuran lapak-lapak para pedagang.

"Kami tidak menolak penataan, hanya kalau mau melakukan penataan, kami tidak mau ada penggusuran. Penataan harus berwajah Yogyakarta, dengan berkeadaban dan berdampak positif untuk semua," ujar Sujarwo, dalam diskusi bersama paguyuban kawasan Malioboro, di Hotel Mutiara, Malioboro, Rabu (13/4/2016).

Lanjut Sujarwo, Pemerintah wajib memikirkan mengenai dampak ekonomi yang akan berimbas kepada pelaku kegiatan ekonomi terutama pedagang kecil yang sudah sejak lama berjualan di kawasan Malioboro jika dilakukan penataan.

Untuk itu, Ia meminta Pemerintah menyiapkan crash program atau program darurat yang dapat mengurangi dampak tersebut.

Program darurat yang dimaksud akan memikirkan bagaimana mekanisem titik-titik kantong parkir, transportasi dalam kawasan, promosi, dan aturan bongkat muat barang untuk para pedagang.

"Kepastian informasi yang jelas mengenai penataan kawasan juga wajib terus disosialisasikan kepada masyarakat, agar jelas, kapan akan dilaksanakan penataan, bagaimana mekanismenya, dampak yang ditimbulkan, dan solusi kedepannya," ujar Sujarwo.

Bukan penataan secara keseluruhan saja, relokasi parkir yang merupakan tahap awal dari penataan saja sudah membuat pedagang kaki lima di Malioboro menjerit karena penurunan omzet yang cukup besar, membuat beberapa terpaksa gulung tikar.

Ketua Paguyuban Pedagang Lesehan Malioboro (PPLM), Sukidi, menuturkan, dampak relokasi parkir di sisi timur Malioboro sudah membuat dagangan PKL lesehan yang beroperasi pada malam hari sepi.

Ia mengeluhkan, pedagang lesehan menjadi yang paling besar kena dampaknya. Paska relokasi beberapa waktu lalu, omzet atau pendapatan dari berjualan menurun drastis, berkurang sampai 60 persen lebih.

"Turun sampai 60 persen setelah direlokasi kemarin, kami yang paling besar kena dampaknya," keluh Sukidi. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved