TRIBUN OPINI

Hikayat Negara Api dan Gafatar

Imbauan negara melalui penyulihnya agar kita bisa menerima eks Gafatar kembali adalah semangat mulia.

Penulis: Hendy Kurniawan | Editor: Iwan Al Khasni
TRIBUNNEWSnetwork
Evakuasi warga eks gafatar di pemukiman moton panjang berlangsung dramatis. Ditengah kepulan asap dan membaranya api dari api pembakaran pemukiman oleh masyarakat, Selasa (19/1/2016). 

Tapi yang jelas, tragedi tersebut membuat harapan Anton lindap.

Apa sejatinya yang dicari para eks Gafatar hingga rela eksodus ke sabrang utara sana. Padahal tak sedikit dari mereka yang sudah hidup mapan dengan bekal pendidikan tinggi. Tak percaya? dokter, dosen, karyawan bank, pegawai negeri sipil, pengusaha ada di dalamnya yang tentu saja bukanlah motif ekonomi yang melandasi.

Satu alasan ideologis terjadinya revolusi sosial adalah ketidakpuasan terhadap kondisi sekitar. Memang fakta ekonomi menjadi satu pemicu, tapi ada faktor lain yang tak bisa diindahkan begitu saja. Politik, budaya, persamaan nasib atau sudut pandang hidup merupakan beberapa di antaranya.

Lalu ketika alpukah dilakukan dengan cara damai tanpa kucuran darah seperti Revolusi Bolshevik yang masyhur itu, mengapa permukiman eks Gafatar harus dirusak lalu dibakar tumpas?

Ayolaah.. mereka saudara kita juga yang mungkin sedang khilaf lalu keblinger ingin mencoba berevolusi. Asal tahu saja, kini mereka masih harus berhadapan dengan stigma serta sungut-sungut curiga dari lingkungan sekembalinya ke tanah asal. Rembang sudah penderitaannya, terlebih jika arta sudah tak lagi ada di asta.

Imbauan negara melalui penyulihnya agar kita bisa menerima eks Gafatar kembali adalah semangat mulia.

Sembari berharap pemerintah tak lagi abai terhadap kesejahteraan multi dimensi penduduknya. Bukan hanya di Jawa, tapi di pelosok pulau-pulau terluar sana. Sehingga tak ada lagi cerita serupa terulang suatu hari nanti. (*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved