TRIBUN OPINI
Hikayat Negara Api dan Gafatar
Imbauan negara melalui penyulihnya agar kita bisa menerima eks Gafatar kembali adalah semangat mulia.
Penulis: Hendy Kurniawan | Editor: Iwan Al Khasni
Sebulan sudah perhatian media massa, baik cetak, elektronik maupun daring tersedot kepada organisasi bernama Gafatar (Gerakan Fajar Nusantara). Teror Afif and the Gang di Jalan MH Thamrin ibu kota sana lengkap dengan berita polisi-polisi modis nan ganteng juga tagar #KamiNaksir-nya sejenak mengalihkan pandang.
Setelah teror usai dengan kemenangan Pak Jamal si penjual sate--konon menjadi simbol Indonesia tangguh--yang tak kenal takut, Gafatar kembali menjadi tajuk utama.
Semua bermula saat dokter Rica Tri Handayani menghilang bersama anak balitanya setelah dijemput sang saudara di Sleman timur, akhir bulan lalu.
Setelah itu, Mapolda DIY dan satuan wilayah kepolisian lainnya kebanjiran laporan dari puluhan warga yang menyatakan anggota keluarganya lenyap tak tahu rimbanya. Gafatar yang belakangan diketahui pernah diikuti dokter Rica sewaktu kuliah di Jogja pun menjadi tersangka.
Beragam dokumen warga yang menghilang hendak atau sudah eksodus ke Kalimantan mencuat. Publik pun dibuat masygul dengan organ berlambang sinar matahari berwarna oranye ini.
Pelbagai analisis dan bukti menguak embrio Gafatar adalah Al-Qiyadah Al-Islamiyah, yang memercayai Ahmad Moshaddeq sebagai rasul dengan sebutan Al-Masih Al-Maw'ud.
Lalu, sekarang kronik mulai beralih tentang bagaimana nasib eks anggota Gafatar yang dikembalikan ke kampung halamannya. Kita tahu, 19 Januari lalu permukiman mereka di Mempawah,Kalimantan Barat dibakar massa. Seribu seratus orang lebih terlantar.
Penampungan disiapkan pemerintah di Surabaya, Jakarta, Boyolali dan tempat lainnya untuk eks Gafatar sebelum dipulangkan ke rumah masing-masing. Setelah menjalani praktik yang orang bilang 'cuci otak' saat masuk Gafatar, kini mereka harus 'dicuci otaknya' agar taubat. Atau mungkin juga diajarkan bela negara.
Satu yang belum benar-benar terkupas adalah semenyelimpang apa seluruh eks Gafatar itu? Soal Ahmad Moshaddeq sesat itu cerita lama yang semua orang tahu karena dia mengaku nabi.
Di sisi lain banyak pernyataan dari mantan pengurus struktural bahwa Gafatar telah resmi dibubarkan pertengahan tahun lalu karena berbagai sebab.
Detik.com mengunggah kisah Anton Prasetyo, eks Gafatar yang sempat ditampung di asrama transito Disnakertransduk Jawa Timur. Tiga tahun bergabung, kegiatan yang dilakukan bersama organisasi ini adalah di bidang sosial.
Pasca-Gafatar dibubarkan, tak ada lagi kegiatan sosial yang dijalani. Tapi Anton tak kehilangan kontak dengan teman-temannya di Gafatar. Sampai akhirnya tertarik hijrah ke Mempawah setelah menyetor uang Rp10 Juta dari hasil menjual sepeda motor.
Pria asal Mojokerto ini mengaku mendapat lahan seluas 0,5 hektare (ini cukup untuk membangun kompleks puluhan rumah di Jogja seharga Rp400 juta per unit) untuk diolah, dan satu rumah petak untuk tempat tinggal bersama keluarganya.
Anton mengklaim jika penghuni di wilayah tersebut bukanlah eks Gafatar. Melainkan kelompok tani Manunggal Sejati. Selama hampir lima bulan di Mempawah, menurutnya tak ada doktrin soal akidah.
Setiap berkumpul di ruang yang disebut Anton aula, pembahasan hanya lingkup pertanian. Urusan agama diserahkan kepada masing-masing individu. Belum ada yang bisa mengonfirmasi kesahihan cerita itu.
Tapi yang jelas, tragedi tersebut membuat harapan Anton lindap.
Apa sejatinya yang dicari para eks Gafatar hingga rela eksodus ke sabrang utara sana. Padahal tak sedikit dari mereka yang sudah hidup mapan dengan bekal pendidikan tinggi. Tak percaya? dokter, dosen, karyawan bank, pegawai negeri sipil, pengusaha ada di dalamnya yang tentu saja bukanlah motif ekonomi yang melandasi.
Satu alasan ideologis terjadinya revolusi sosial adalah ketidakpuasan terhadap kondisi sekitar. Memang fakta ekonomi menjadi satu pemicu, tapi ada faktor lain yang tak bisa diindahkan begitu saja. Politik, budaya, persamaan nasib atau sudut pandang hidup merupakan beberapa di antaranya.
Lalu ketika alpukah dilakukan dengan cara damai tanpa kucuran darah seperti Revolusi Bolshevik yang masyhur itu, mengapa permukiman eks Gafatar harus dirusak lalu dibakar tumpas?
Ayolaah.. mereka saudara kita juga yang mungkin sedang khilaf lalu keblinger ingin mencoba berevolusi. Asal tahu saja, kini mereka masih harus berhadapan dengan stigma serta sungut-sungut curiga dari lingkungan sekembalinya ke tanah asal. Rembang sudah penderitaannya, terlebih jika arta sudah tak lagi ada di asta.
Imbauan negara melalui penyulihnya agar kita bisa menerima eks Gafatar kembali adalah semangat mulia.
Sembari berharap pemerintah tak lagi abai terhadap kesejahteraan multi dimensi penduduknya. Bukan hanya di Jawa, tapi di pelosok pulau-pulau terluar sana. Sehingga tak ada lagi cerita serupa terulang suatu hari nanti. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/evakuasi-warga-eks-gafatar_20160129_095953.jpg)