Potret Pemukiman Kumuh, Waria dan PSK dalam Bingkai Opera Kecoa
Opera Kecoa ini dimainkan oleh sebanyak 60 pemeran dan membutuhkan waktu 3 bulan untuk mempersiapkan segalanya menjelang pementasan.
Penulis: abm | Editor: Muhammad Fatoni
Laporan Reporter Tribun Jogja, Septiandri Mandariana
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Lampu menyala, dan tampaklah sebuah komplek pemukiman kumuh yang diisi oleh para waria dan PSK.
Di situ mereka tinggal, dan di situ pula mereka menjajakan kenikmatan kepada para lelaki hidung belang.
Tidak hanya mereka yang juga kaum marjinal, para "petinggi" pun menjadi bagian dari kisah hidup mereka para waria dan PSK.
Julini, seorang waria senior paling cantik akhirnya kembali ke pemukiman kumuh itu. Dia datang bersama lelaki tampannya bernama Roimah.
Kedatangan Julini mendapat respon negatif dari para waria dan PSK yang takut tersaingi oleh sosok waria senior nan cantik itu. Terutama Tuminah, PSK yang menjadi idaman kebanyakan lelaki hidung belang menolak keras dengan kembalinya Julini.
Tidak hanya itu, kampung kumuh yang menjadi tempat mengais rezeki para waria dan PSK itu pun santer terdengar akan digusur untuk dijadikan terminal. Konflik makin bergejolak, Tuminah menyukai Roimah, begitupun sebaliknya.
Julini geram, marah tak karuan hingga ia bertemu dengan segerombolan utusan dari pemerintah sedang berpidato menyosialisasikan mengenai penggusuran pemukiman itu.
Julini makin menjadi. Ia pun langsung melabrak gerombolan itu dengan marahnya karena tidak terima pemukiman kumuh itu digusur.
Akibat hal itu, Julini pun harus mati karena mendapat sebuah peluru yang bersarang di dadanya. Julini mati dan meninggalkan kampung, teman, pacar dan lainnya untuk selamanya.
Singkat cerita tentang kisah hidup mereka yang termarjinalkan dalam sebuah pertunjukan teater.
Ya, namanya Opera Kecoa yang beberapa puluh tahun yang lalu sempat dipentaskan oleh Teater Koma hingga akhirnya dilarang untuk dipentaskan. Kali ini, Dewan Teater Yogyakarta memntaskan kembali kisah itu dengan judul yang sama dan di zaman yang berbeda.
Pementasan ini diselenggarakan di 4 tempat dengan waktu yang berbeda, yaitu di Solo, Tegal, Purworejo dan terakhir di Yogyakarta.
Untuk di Yogyakarta sendiri, pementasan Opera Kecoa ini dipentaskan di Taman Budaya Yogyakarta, Rabu (16/12/2015) malam lalu, dan ditonton oleh ratusan masyarakat dari berbagai kalangan dan usia.
Puntung CM Pudjadi, seorang sutradara yang mengambil kendali pementasan yang diselenggarakan di 4 tempat ini. Menurutnya, kisah ini harus kembali dipentaskan, karena mau bagaimana pun "mereka" adalah manusia yang sering dianggap sebelah mata dan tidak dianggap keberadaannya.
"Untuk Opera Kecoa yang ditampilkan sekarang tidak ada adegan ketika waria demo. Jadi ditunjukan mengenai kisah cinta dan pesan yang ingin disampaikan kepada penonton sama.
Bagaimana pun waria, PSK dan lainnya adalah manusia," ungkap Puntung kepada Tribun Jogja, Rabu (16/12/2015) malam kemarin.
Opera Kecoa ini dimainkan oleh sebanyak 60 pemeran dan membutuhkan waktu 3 bulan untuk mempersiapkan segalanya menjelang pementasan.
Ia tidak menyangka, Opera Kecoa mendapatkan tanggapan yang sangat baik dari masyarakat di 3 tempat sebelumnya.
Sampai-sampai tempat pementasan tidak bisa menampung penonton yang hadir untuk menyaksikan pementasan dengan durasi 2 jam itu.
"Kami mementaskan lagi Opera Kecoa ini bukan untuk apa-apa, namun ingin lebih memperlihatkan permasalahan kemanusiaan yang ada di sekitar kita," tuturnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/opera-kecoa_20151219_083655.jpg)