Tribun Opini
Refleksi Lima Tahun Bencana Erupsi Merapi
Gunung Merapi menyemburkan awan panas atau wedhus gembel mencapai 15 kilometer; sedangkan tahun 1872 hanya 11-12 kilometer.
Fenomena gunung api sesungguhnya menunjukkan ayat-ayat Tuhan yang penuh hikmah dan penting untuk diresapi sebagai bahan pembelajaran kehidupan.
Refleksi Kepemimpinan
Bangsa ini baru setahun memiliki pemimpin baru di tingkat nasional, dan di tingkat lokal sedang menuju Pilkada serentak Desember 2015.
Rakyat berharap pemimpin yang dihasilkan memiliki karakter kuat dan visioner. Karakter kepemimpinan dapat diresapi dari ayat-ayat yang diajarkan gunung api.
Pertama, pemimpin mesti menepati janji. Setiap pesta demokrasi rakyat selalu disuguhi janji-janji politik. Janji dalam kampanye adalah keniscayaan, tetapi jangan sampai hanya angin surga.
Kristiadi (2014) menyampaikan bahwa janji politik merupakan etika sosial dan bagian dari peradaban. Kini saatnya menanti segala janji dan menuntut implementasinya.
Kedua, pemimpin mesti total melayani. Esensi memimpin adalah melayani. Pemimpin mesti siap 24 jam dalam melayani rakyat.
Kepentingan rakyat mesti didahulukan di atas kepentingan pribadi, keluarga, parpol, ormas, dan lainnya. Rakyat berhak menuntut pelayanan prima pemimpinnya.
Ketiga, pemimpin mesti aktif dan dinamis. Dinamika kepemimpinan menjadi faktor penting menuju keberhasilan pengelolaan.
Pemimpin mesti handal dan dibanggakan dalam mengelola internal dan berkomunikasi dengan eksternal.
Keempat, pemimpin mesti tanggap dan sigap. Bencana terus mengintai bangsa ini. Pemimpin penting memiliki visi ekologi dan kebencanaan.
Bencana antropogenik mesti bisa diminimalisasi. Bencana alam juga mesti sigap dikelola agar tidak banyak memakan korban.
Pemimpin, di manapun tingkatannya, penting membuktikan diri sebagai pemimpin sejati. Kitu tunggu kemampuan pemimpin memetik hikmah di balik ayat-ayat Merapi. Rakyat berhak menilai dan mengawasi. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/opini_2610_20151026_220313.jpg)