Tribun Opini

Refleksi Lima Tahun Bencana Erupsi Merapi

Gunung Merapi menyemburkan awan panas atau wedhus gembel mencapai 15 kilometer; sedangkan tahun 1872 hanya 11-12 kilometer.

Editor: Muhammad Fatoni
dok.pri
Ribut Lupiyanto 

Ribut Lupiyanto
Peneliti Pusat Studi Lingkungan UII

TRIBUNJOGJA.COM - Lima tahun yang lalu, terjadi erupsi terdahsyat Merapi sepanjang abad ini.

Tepatnya tanggal 26 Oktober 2010 dan 5 November 2010, Gunung Merapi menyemburkan awan panas atau wedhus gembel mencapai 15 kilometer; sedangkan tahun 1872 hanya 11-12 kilometer.

BNPB (2010) melaporkan erupsi menelan korban 196 orang meninggal akibat luka bakar, 151 meninggal akibat nonluka bakar, 258 luka-luka, serta 410.338 orang mengungsi.

Kerugian lain adalah matinya ternak, rusaknya lahan, matinya tanaman, dan kerusakan bangunan. Namun, di sisi lain, erupsi besar Merapi juga membawa berkah bagi keberadaan pasir dan batu serta potensi kesuburan tanah ke depan.

Banyak hal dapat direfleksikan atas kemahadahsyatan erupsi Merapi. Salah satu aspek perenungan adalah filosofi kepemimpinan yang dapat dipetik dari keberadaan dan aktivitas Merapi.

Ayat-ayat Merapi

Hikmah dapat dipetik dari segala peristiwa dan semua bentuk makhluk. Kemampuan memetik hikmah tergantung pada kemampuan pembacaan.

Tuhan mewajibkan manusia untuk selalu membaca, baik kitab suci maupun alam semesta. Setiap pihak dapat membaca ayat-ayat Merapi melalui aktivitasnya.

Gunung Merapi tidak pernah ingkar janji sebagai gunungapi teraktif. Data dan sejarah menunjukkan Gunung Merapi memiliki siklus erupsi alamiah sekitar 4-5 tahun. Semua janji gunung api selalu ditepati.

Gunung Merapi tidak lelah dalam memberi. Kembali kasus Merapi membuktikan bahwa erupsi tahun 2010 telah memberikan material pasir dan batu mencapai 92,3 juta m3 (Hadmoko, 2011).

Material tersebut akan habis diangkut sekitar 15 juta truk. Seandainya retribusi dapat dipungut sebesar Rp50 ribu per truk, maka potensi ekonominya adalah Rp750 miliar.

Abu vulkanik yang diembuskan dari letusan gunng api juga menjadi faktor penting penyubur tanah.

Gunung Merapi tidak pernah berdiam diri. Aktivitas vulkanik tidak mengenal jeda. Daryono (2010) memaparkan beberapa faktor yang membuat gunung api sangat aktif, di antaranya, adalah kondisi aktivitas seismik dan tektonik regional.

Indonesia memiliki 129 gunung api aktif dan terbanyak sedunia (Kementerian ESDM, 2014). Sekitar empat juta orang tinggal di kawasan rawan bencana gunung api.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved