Berawal dari Hobi, Pria Ini Jadi Pembiak Anjing Bulldog Terbesar di DIY
Frans Hardiyanto menjadi salah satu pembiak Bulldog terbesar di DIY
Penulis: Santo Ari | Editor: Muhammad Fatoni
Laporan Reporter Tribun Jogja, Santo Ari
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Bagi sebagian masyarakat, anjing adalah hewan peliharaan yang setia. Memiliki bentuk tubuh yang lucu, anjing dapat menjadi teman yang menggemaskan. Berbagai jenis anjing ras saat ini bisa dimiliki oleh masyarakat.
Mereka memilih anjing dengan bloodline murni selain karena unik juga untuk melestarikan anjing itu sendiri. Bahkan ada beberapa anjing ras yang terbilang langka dan tak banyak orang memilikinya.
Seperti bulldog, anjing yang memiliki tubuh pendek, hidung pesek dan kulit muka yang berkerut menjadi ciri khas anjing ini. Tak banyak yang memiliki bulldog dan mengembangbiakkannya karena membutuhkan perawatan khusus untuk persalinan dan hanya dapat melahirkan paling banyak lima anak. Karena hal itu dan bentuknya yang unik, saat ini harga anakan Bulldog bisa mencapai puluhan juta rupiah.
Berawal dari kesukaannya memelihara Bulldog tahun 2010 silam, kini Frans Hardiyanto menjadi salah satu pembiak Bulldog terbesar di DIY. Ruangan di belakang rumah yang berada di Mlati, Sleman, disulapnya menjadi kandang untuk empat ekor pejantan dan 10 ekor betinanya.
Frans menceritakan pada awalnya ia memelihara bulldog karena rasa senang melihat anjing berwajah unik ini. Saat pertama kali memiliki bulldog tak terbesit dipikirannya untuk menjadi breeder atau pembiak. Akan tetapi seiring prestasinya memenangkan beberapa kompetisi anjing, ia lantas mulai memilih menjadi pembiak dengan membeli materi indukan yang berkualitas.
Tak tanggung-tanggung ia bahkan membeli pejantan dengan garis darah murni dari breeder asal Thailand.
Diceritakannya, bulldog merupakan ras anjing tertua, berasal dari inggris dan dipelihara sebagai anjing petarung. Menurut sejarah anjing ini sering diadu dengan banteng sehingga diberi nama bulldog.
Konon, bulldog ini mempunyai postur tubuh yang tinggi, akan tetapi setelah ada larangan mengadu anjing lama kelamaan mengecil dan hingga saat ini dipelihara sebagai rumahan.
"Anjing bulldog tergolong jenis pemalas dibanding anjing yang lain, merupakan anjing rumahan dan cocok dipelihara sebagai family companion alias anjing sahabat keluarga," jelasnya.
Bersama anjingnya, Frans kerap memenangkan show anjing di berbagai kota, seperti di Bandung, Surabaya, Malang, dan Magelang. Karena prestasi dan ditambah perawatan yang terbilang mahal, anakan yang dijual di kennelnya yang bernama Bullpaws Bulldog Kennel bisa mencampai belasan hingga puluhan juta rupiah.
Pembiakan bulldog berbeda dengan anjing lainnya. Anjing betina tidak disarankan melahirkan secara normal tetapi harus dibantu melalui operasi cesar. Hal itu lantaran fisik anjing tersebut yang berlemak dan bertubuh gempal. Setelah anakan lahir pun ia harus memisahkan dari induknya. Tubuh anak anjing bulldog sangatlah kecil dan bisa berbahaya apabila sang ibu menindihnya.
Untuk itu pulalah ia membuat inkubator sendiri untuk merawat anakan selama satu bulan penuh. Perhatian dicurahkan layaknya anak sendiri. Dibantu istrinya, Siska, setiap dua hingga tiga jam sekali ia harus menyusui anak bulldog dengan dot, bahkan dikala malam.
Untuk menjaga kondisi indukan betina, Frans tidak lantas selalu mengawinkannya. Ia menargetkan hanya mengawinkan betina sebanyak lima kali saja. Itu juga bentuk upaya untuk menjaga garis keturunan tetap bagus.
Lebih lanjut, diterangkan Frans, bulldog memang harus mendapatkan perawatan yang ekstra, kerena nafas yang pendek, Frans menyarankan pemilik bulldog untuk tidak mengajaknya jogging. Pemilik bulldog juga harus memperhatikan lipatan-lipatan kulit di muka agar tidak tumbuh jamur. Kulit bulldog memang terbilang sensitif untuk itu ia hanya memberikan dogfood dan memnghindari memberi daging ayam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/pembiak-anjing_20150827_182107.jpg)