Warga Yogya Kembali Keluhkan Pembangunan Apartemen
Warga RT 01 RW 01 Terban, Gondokusuman, yang wilayahnya akan menjadi lokasi pembangunan apartemen, mengadu ke Forpi Kota Yogyakarta.
Penulis: tiq | Editor: oda
Laporan Reporter Tribun Jogja, Pristiqa Ayun Wirastami
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Forum Pemantau Independen (Forpi) Kota Yogyakarta kembali menerima aduan dari warga terkait pembangunan apartemen di wilayah mereka.
Kali ini, warga yang mengadu ke Forpi Kota Yogyakarta merupakan warga RT 01 RW 01 Terban, Gondokusuman. Sedangkan wilayah yang akan menjadi lokasi pembangunan apartemen berada di RT 01 dan RT 02.
Winarta, Koordinator Forpi Kota Yogyakarta mengatakan akibat adanya rencana pembangunan apartemen di wilayah tersebut, terjadi konflik internal antara warga.
Warga di kedua RT yakni 01 dan 02 terpecah menjadi dua kubu, yaitu pihak yang mendukung dan menolak.
"Kubu warga yang keberatan dengan pembangunan apartemen tersebut karena masalah ketinggian bangunan. Apartemen di wilayah tersebut rencananya dibangun setinggi 11 lantai, menurut warga yang menolak itu terlalu tinggi. Dan resikonya pun akan sangat besar," kata Winarta.
Warga, lanjut Winarta, pun mendesak pihak pengembang untuk mau menurunkan ketinggian bangunan apartemen yang akan mereka bangun.
Tuntutan dari warga pun bermacam-macam, ada yang menuntut apartemen hanya 4, 5, atau maksimal 7 lantai.
Selain soal ketinggian, warga juga menolak keberadaan apartemen tersebut karena akan menyediakan 720 kamar. Jumlah tersebut sangat banyak dan dikhawatirkan akan berdampak pada hubungan sosial warga sekitar.
[baca: Belum Satupun Izin Pendirian Apartemen di Yogya Dikeluarkan]
Sebab jika apartemen tersebut benar-benar akan beroperasi, maka akan datang banyak penghuni baru ke wilayah tersebut yang latar belakangnya tidak diketahui.
"Kedatangan penghuni-penghuni baru yang latar belakangnya tidak diketahui ini dikhawatirkan akan merusak tatanan sosial warga yang selama ini sudah terbangun dengan apik," ujar Winarta.
Belum lagi jika para penghuni apartemen nantinya memiliki paling tidak satu mobil. Bisa dibayangkan lokasi dimana apartemen tersebut berada akan semakin macet dan semrawut.
Apalagi lokasi berdekatan dengan beberapa fakultas-fakultas di UGM.
Lalu, tak hanya soal ketinggian dan jumlah kamar yang terlalu banyak, warga juga mengeluhkan cara pengembang dalam melakukan sosialisasi kepada warga.