Kesemrawutan Papan Reklame
Ada yang Pusing Ada yang Senang
Kehadiran medium iklan baru berupa videotron di Kota Yogyakarta memunculkan prokontra di tengah-tengah masyarakat
Penulis: oda | Editor: Ikrob Didik Irawan
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kehadiran medium iklan baru berupa videotron di Kota Yogyakarta memunculkan prokontra di tengah-tengah masyarakat. Ada yang mendukung, ada pula yang justru merasa terganggu karena silau.
Yahya Saptaria (35), warga Kota Yogyakarta ini mengaku kerap terbantu karena jalanan jadi terang benderang di waktu malam.
"Di jalan yang minim penerangan tentu itu dapat membantu penerangan bagi pengguna jalan seperti saya ini," kata Yahya beberapa hari lalu.
Meskipun videotron cukup menarik karena adanya gambar yang bergerak, Yahya mengaku tak begitu memperhatikannya.
Dia juga tak memperhatikan reklame-reklame raksasa di perempatan atau titik-titik strategis lainnya.
"Saat perjalanan saya hanya fokus menuju arah tujuan saja. Kalau melihat reklame-reklame jadi pusing sendiri karena sudah banyak berjejer di titik-titik tertentu," papar seorang biker itu.
Namun ia mengakui kehadiran videotron bisa mempercantik kota. "Adanya videotron malah bagus juga. Kota jadi semakin indah, asal videotron juga ditata secara baik oleh pemerintah," ucapnya.
Sebagai pengguna jalan dan masyarakat, dia mengharapkan rencana pemerintah untuk mengurangi reklame tersebut bukan hanya untuk kepentingan sejumlah pihak.
Jumlah dan letak videotron juga perlu diatur, supaya videotron tidak sebanyak reklame statis.
Terganggu
Miyanto (38), warga Yogyakarta, mengaku kadang terganggu tingkat kecerahan cahaya videotron.
"Ada salah satu videotron di wilayah kota yang sangat terang, sehingga membuat silau pengguna jalan ketika melihat dan berpapasan dengan videotron itu. Saya harap pemerintah juga mengatur tingkat kecerahannya," ungkapnya.
Saat disuruh memilih, dia mengaku lebih suka melihat reklame statis daripada yang bergerak. Selain dari penerangannya yang tidak menyilaukan, reklame statis lebih bisa memuat banyak pesan, daripada yang bergerak.
"Reklame yang diam (statis) dapat diamati karena tidak ganti-ganti, sedangkan reklame bergerak seperti di videotron, terkadang ada informasi yang kelewatan. Lebih suka yang diam kalau saya," urainya.
Miyanto menambahkan, dia sebenarnya mendukung rencana pemerintah kota untuk mengurangi reklame. Namun dia juga mengharapkan adanya tindakan tegas pemerintah yang mengaturnya.
"Kalau memang melanggar aturan seharusnya juga ditertibkan. Kalau perlu ditebang atau dicopot. Reklame yang menumpuk di satu titik juga dapat mengganggu keindahan kota," pungkasnya. (tribunjogja.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/reklame-semrawut-di-jalan-kaliurang.jpg)