Apa Hubungan Ki Ageng Pamenahan dan Ki Ageng Giring?
Ki Ageng Pamenahan adalah pendiri desa Mataram pada tahun 1556 yang kemudian berkembang menjadi Kasultanan Mataram Islam
Penulis: Hamim Thohari | Editor: Ikrob Didik Irawan
Ki Ageng Giring juga mengajarkan untuk menanam banyak pohon kelapa yang sangat besar manfaatnya untuk kehidupan penduduk waktu itu.
Kehidupan berlangsung hingga Ki Ageng Giring I wafat dan digantikan kedudukannya oleh putranya, Ki Ageng Giring II dan Ki Ageng Giring II pun wafat digantikan oleh putranya yakni Ki Ageng Giring III.
Pada masa Ki Ageng Giring III inilah terdapat kisah ‘wahyu gagak emprit’.
Ki Ageng Giring III yang tinggal di daerah Paliyan Gunungkidul disuruh menanam sepet atau sabut kelapa kering oleh Sunan Kalijaga yang kemudian tumbuh menjadi pohon kelapa yang menghasilkan degan atau buah kelapa muda.
Menurut mimpi, Ki Ageng Giring harus segera memetik satu-satunya buah kelapa yang masih muda itu dan meminum airnya agar kelak dapat menurunkan raja dengan kepribadian yang utuh, yang kemudian dikenal dengan Wahyu Gagak Emprit.
Tetapi saat ditinggal di ladang, datanglah Ki Ageng Pamanahan. Karena datang dari jauh dan dalam kondisi haus, Ki Ageng Pamanahan meminum air kelapa yang ada di dalam mimpi Ki Ageng Giring yang telah dipetik.
Karena Ki Ageng Pamanahan adalah yang berhasil meminum air degan tersebut, hingga dia dan keturunannya yang berhak menjadi raja di tanah Jawa.
Meski demikian Ki Ageng Giring menyampaikan keinginan kepada Ki Ageng Pemanahan agar salah seorang anak turunnya kelak bisa turut menjadi raja di Mataram.
Dari musyawarah diperoleh kesepakatan bahwa keturunan Ki Ageng Giring akan diberi kesempatan menjadi raja tanah Jawa pada keturunan yang ketujuh. (tribunjogja.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/pembayun_0405_20150504_200929.jpg)