Apa Hubungan Ki Ageng Pamenahan dan Ki Ageng Giring?

Ki Ageng Pamenahan adalah pendiri desa Mataram pada tahun 1556 yang kemudian berkembang menjadi Kasultanan Mataram Islam

Tayang:
Penulis: Hamim Thohari | Editor: Ikrob Didik Irawan
Tribun Jogja/Hari Susmayanti
Ilustrasi: Gusti Pembayun dan rombongan Gusti Prabukusumo bertemu secara tidak sengaja saat berziarah ke Makam Ki Ageng Giring, Sodo, Paliyan, Senin (4/5/2015). 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Terkait adanya Sabdaraja yang belum lama ini dikeluarkan oleh Sultan HB X, nama pendiri kerajaan Mataram Islam yang menjadi cikal bakal Kasultanan Yogyakarta, yakni Ki Ageng Pamenahan dan Ki Ageng Giring sering disebut.

Ki Ageng Pamenahan adalah pendiri desa Mataram pada tahun 1556 yang kemudian berkembang menjadi Kasultanan Mataram Islam di bawah kepemimpinan putranya yang bernama Sutawijaya yang bergelar Penembahan Senapati.

Tetapi sebelum berdirinya desa Mataram dan kemudian berkembang menjadi Kasultanan Mataram, terdapat kisah menarik tentang hubungannya Ki Ageng Pamanahan dengan Ki Ageng Giring yang pada akhirnya melahirkan Kasultanan Mataram.

Ki Ageng Pamenahan dan Ki Ageng Giring adalah sama-sama murid dari Sunan Kalijaga. Ki Ageng Pamanahan adalah cucu dari Ki Ageng Sela (guru spiritual Sultan Adiwijaya pendiri Kasultanan Pajang), dari anaknya yang bernama Ki Ageng Henis.

Saat itu Ki Ageng Pamenahan mendapatkan hadiah berupa Alas Mentaok dari Hadiwijaya karena anaknya (Sutawijaya) berhasil membunuh Arya Penangsang yang sebelumnya melakukan pembunuhan terhadap Sunan Prawoto, penguasa terakhir Kerajaan Demak pada tahun 1549.

Sebelum secara resmi mendapatkan Alas Mentaok, Ki Ageng Pamanahan mengunjungi teman seperguruannya, Ki Ageng Giring III yang menetap di sebuah daerah yang saat ini masuk dalam wilayah administrasi Desa Sodo Giring, Kecamatan Paliyan. 

[baca :Para Adik Ingin Sultan Minta Maaf ke Pendiri Mataram]

Ki Ageng Giring sendiri adalah salah seorang keturunan Prabu Brawijaya IV dari Retna Mundri.

Ayahanda Ki Ageng Giring I adalah Prabu Brawijaya IV raja Majapahit, sedangkan ibunya bernama Retno Mundri. Ia bertemu dengan seorang wali besar yang bernama Sunan Kalijaga.

Ia bersama Ki Ageng Pemanahan adalah tokoh politik yang mengembara dari istana untuk mengembangkan kekuatan spiritual dan mengajarkan Islam kepada penduduk sekitar.

Setelah hancurnya kerajaan Majapahit, putra-putri Prabu Brawijaya menyebar ke berbagai wilayah di tanah Jawa, bahkan sampai Bali dan Lombok. Di tempatnya masing-masing, mereka berusaha untuk mendapatkan kembali tahta ayah mereka yang telah hilang.

Keyakinan bahwa wahyu kraton akan turun kepada putra yang memiliki kecakapan lahir batin ini sangat kuat menancap ke dalam relung jiwa para trah darah biru ini, di antaranya adalah Ki Ageng Giring (I).

Pengembaraan

Ki Ageng Giring berjalan jauh melakukan pengembaraan hingga pilihannya jatuh pada daerah yang datar dengan pemandangan perbukitan dan sungai-sungainya yang jernih.

Di dekat sebuah mata air ia mendirikan gubug peristirahatannya.

Ki Ageng Giring juga mengajarkan untuk menanam banyak pohon kelapa yang sangat besar manfaatnya untuk kehidupan penduduk waktu itu.

Kehidupan berlangsung hingga Ki Ageng Giring I wafat dan digantikan kedudukannya oleh putranya, Ki Ageng Giring II dan Ki Ageng Giring II pun wafat digantikan oleh putranya yakni Ki Ageng Giring III.

Pada masa Ki Ageng Giring III inilah terdapat kisah ‘wahyu gagak emprit’.

Ki Ageng Giring III yang tinggal di daerah Paliyan Gunungkidul disuruh menanam sepet atau sabut kelapa kering oleh Sunan Kalijaga yang kemudian tumbuh menjadi pohon kelapa yang menghasilkan degan atau buah kelapa muda.

Menurut mimpi, Ki Ageng Giring harus segera memetik satu-satunya buah kelapa yang masih muda itu dan meminum airnya agar kelak dapat menurunkan raja dengan kepribadian yang utuh, yang kemudian dikenal dengan Wahyu Gagak Emprit.

Tetapi saat ditinggal di ladang, datanglah Ki Ageng Pamanahan. Karena datang dari jauh dan dalam kondisi haus, Ki Ageng Pamanahan meminum air kelapa yang ada di dalam mimpi Ki Ageng Giring yang telah dipetik.

Karena Ki Ageng Pamanahan adalah yang berhasil meminum air degan tersebut, hingga dia dan keturunannya yang berhak menjadi raja di tanah Jawa.

Meski demikian Ki Ageng Giring menyampaikan keinginan kepada Ki Ageng Pemanahan agar salah seorang anak turunnya kelak bisa turut menjadi raja di Mataram.

Dari musyawarah diperoleh kesepakatan bahwa keturunan Ki Ageng Giring akan diberi kesempatan menjadi raja tanah Jawa pada keturunan yang ketujuh. (tribunjogja.com)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved