Sabdaraja Sri Sultan HB X

Sejarawan UGM : Sabdaraja Hak Mutlak Sepenuhnya Seorang Raja

Pada dasarnya setiap pemimpin, dalam hal ini raja yang bertahta memiliki otoritas dan model kepemimpinannya sendiri

Sejarawan UGM : Sabdaraja Hak Mutlak Sepenuhnya Seorang Raja
Tribun Jogja/Hendy Kurniawan
Gubernur DIY sekaligus Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X. 

Djoko Dwiyanto
(Sejarawan UGM/ Ketua Dewan Kebudayaan DIY)

TRIBUNJOGJA.COM - Pada dasarnya setiap pemimpin, dalam hal ini raja yang bertahta memiliki otoritas dan model kepemimpinannya sendiri. Hanya saja ada tradisi dalam kerajaan Mataram.

Biasanya raja terakhir menyalin atau menyadur sebuah kitab tertentu sebagai pegangan, dalam hal ini adalah Babad Mataram atau Mentawis. Kitab inilah yang akan menjadi pegangan.

Namun, setiap pemimpin hidup dalam zamannya sendiri. Dalam hal ini Ngarso Dalem hidup di zaman modern. Dibandingkan dengan zaman HB IX misalnya, tentu sudah banyak sekali perubahannya. Misalnya saja era 1998-1999 yang menimbulkan banyak perubahan. Situasi ini pastilah berpengaruh pula pada raja. Maka kemudian diperlukan perubahan atau reformasi.

Saya tentu tidak tahu latar belakangnya. Namun, setiap keputusan perubahan, misalnya saja dalam dunia akademik, tentu diperlukan penjelasan mengenai latar belakangnya. Ibaratnya, ada argumentasinya.

Keputusan untuk mengubah, misalnya saja gelar Buwono menjadi Bawono tentu tidak sesuai dengan Pitutur Luhur yang dianut HB I sampai HB IX. Untuk itu, tentunya akan sangat baik jika HB X bisa menjelaskan kepada publik alasan perubahan ini.

Ini memang sepenuhnya hak raja. Namun pada zaman modern ini, ketika suatu keputusan dilemparkan ke publik, harus ada argumen yang transparan. (*)

Tags
Sabdaraja
Penulis: toa
Editor: ton
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved