Teknik Melukis Unik Pakai Obat Nyamuk dan Rokok Hasilkan Ribuan Dolar
Wawan memulai eksperimennya melukis dengan menggunakan lidi, kayu bakar, kulit kelapa dan bahkan dupa
Penulis: Agung Ismiyanto | Editor: Ikrob Didik Irawan
Laporan Reporter Tribun Jogja, Agung Ismiyanto
TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Meninggalkan cara melukis dengan cat minyak, membuat Untung Yuli Prasetyawan alias Wawan Geni memiliki kekhasan tersendiri pada lukisannya. Dia akhirnya menggunakan teknik bakar untuk melukis dengan menggunakan rokok dan obat nyamuk. Dari lukisannya itu, dia sudah mampu mendapatkan uang ribuan dolar.
Aroma obat nyamuk bercampur asap rokok begitu terasa saat Wawan Geni melukis di atas kanvas dengan ukuran 1,5 meter x 2 meter. Wawan nampak berkonsentrasi menyelesaikan lukisannya yang bercerita tentang kehidupan sosial saat ditemui Tribun Jogja pekan lalu.
Mulut Wawan tak henti-hentinya menghembus abu putih di obat nyamuk bakar yang dipergunakannya sebagai “kuas” untuk melukis. Sementara, rokok juga tak henti-hentinya dihisapnya hingga bara api kembali memerah. Kedua media itu kemudian digoreskannya ke kanvas untuk membuat sebuah lukisan.
Lukisan Wawan mungkin memiliki warna yang lebih monoton, hanya kombinasi hitam dan coklat muda. Namun, demikian, lukisan yang dibuat warga Kauman, Blondo, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang ini sarat dengan kreativitas dan ide yang menakjubkan.
“Saya memang menyukai efek-efek warna coklat dan sephia yang cukup menarik. Apalagi, kalau warna itu dituangkan dalam lukisan,” ujar Wawan sembari tetap melanjutkan melukis.
Warna sephia itulah yang kemudian menginspirasi Wawan untuk berkarya dengan keterbatasan media yang dia punya. Di sisi lain, pelukis ini juga memiliki ketertarikan dengan bara api. Dia selalu bereksperimen membentuk sebuah karya dengan api.
Pakai Dupa
Jauh sebelum menggunakan media obat nyamuk, rokok, dan kanvas, Wawan memulai eksperimennya melukis dengan menggunakan lidi, kayu bakar, kulit kelapa dan bahkan dupa.
Dia memulai teknik bakar melukis itu sejak tahun 2003 dengan media kertas dupleks pada awal berkarya. Sementara, saat ini, dia menggunakan kanvas yang dibalik untuk media gambarnya.
“Namun, saya menemukan media yang tepat untuk melukis adalah obat nyamuk dan rokok. Dua alat itu bisa sangat menyatu dalam membuat sebuah lukisan dan bisa menjadikannya lebih indah. Untuk obat nyamuk, ujungnya yang runcing cukup memudahkan saya. Sementara rokok, bisa menyebarkan api untuk corak lukisan saya,” kata dia.
Atas keunikan teknik yang dipergunakan Wawan, akhirnya lukisannya itu mulai dilirik oleh wisatawan mancanegara. Dia juga menyabet rekor dari Museum Rekor Indonesia (MURI) tahun 2006 atas keunikan teknik melukisnya.
Lukisan pertamanya menggambarkan petani yang sedang membajak sawah dengan latar belakang Candi Borobudur dan laku terjual Rp 1,5 juta. Kala itu, dia sangat senang ada respon positif terhadap karyanya.
Akhirnya, Wawan terus berkarya dengan penuh percaya diri. Dia kemudian melukis beragam karya yang cukup menarik. Tema-tema yang diangkatnya adalah mengenai kehidupan sosial. Wawan mengaku selalu gerah untuk tidak melukiskan kehidupan sosial dalam lukisannya.
Sejauh ini, lukisan Wawan mulai diminati oleh wisatawan asing. Lebih dari 70 lukisan karyanya sudah dibeli oleh wisatawan dan kolektor dari Singapura, New York, California, Australia, dan Jerman. Lukisan tersebut rata-rata dibeli dengan harga 1.500 dollar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/lukisan-geni_2303.jpg)