Mengenal Lebih Dekat Seni Jemparigan, Olahraga Panahan Gaya Mataram

Sembari duduk bersila, mata mereka awas memperkirakan hempasan angin yang dapat mengganggu lesatan anak panah bermata logam itu.

Tayang:
Penulis: ang | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/ Angga Purnama
Jemparingan, seni memanah tradisional ala Zaman Mataram 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Angga Purnama

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Menjajaki Dusun Karangnongko, Desa Maguwoharjo, Kecamatan Depok, pemukiman padat penduduk menjadi pemandangan yang lazim di daerah yang mengapit Kota Yogyakarta itu. Namun siapa sangka di tengah deretan rumah yang berhimpitan itu ada lapangan kecil yang digunakan sebagai tempat latihan memanah oleh sekelompok orang.

Bret! Jleb! Bunyi itu acap kali terdengar sekilas sebelum anak panah menancap pada bandul atau sasaran kecil yang terpasang menggantung. Sasaran dari buntalan kain berwarna merah, kuning, serta putih ini diletakkan hampir 20 meter dari tempat duduk pemanah, namun anak panah mampu mencapainya hanya sepersekian detik saja.

Minggu (15/3/2015) siang, terlihat beberapa pemanah sedang unjuk gigi memperlihatkan kemampuan. Sepintas terlihat mudah, namun seni olahraga ini membutuhkan konsentrasi tinggi.

Sembari duduk bersila, mata mereka awas memperkirakan hempasan angin yang dapat mengganggu lesatan anak panah bermata logam itu. Saat yakin, mereka pun mulai membidik meski tanpa pembidik seperti busur modern yang biasa digunakan dalam cabang olahraga panahan. Dan bret! anak panahpun melesat menembus angin.

Demikianlah suasana di Padepokan Jemparingan Dewondanu, sebuah pusat pelatihan seni dan olahraga panahan gaya Mataram. Adalah Tubagus Ali Musthofa, pembina padepokan sekaligus empu senjata mataraman, mengatakan jemparingan merupakan salah satu seni tradisi dari Yogyakarta yang saat ini masih eksis.

“Seni ini juga dapat dijadikan olahraga khususnya melatih konsenterasi sekaligus pengendalian diri. Dengan demikian, pikiran dapat fokus,” paparnya.

Menurutnya, seni ini dapat dipelajari oleh semua orang dari berbagai macam latar belakang maupun umur. Namun untuk menguasainya bukanlah perkara mudah. Bakat dan kecakapan seseorang yang baru belajar memanah menjadi penentu.

“Ada yang satu tahun belum bisa, ada pula yang baru satu bulan saja sudah mahir. Tergantung bakatnya dan bagaimana ia mengenali busur ataupun dirinya sendiri, karena ini seni,” ungkap pria yang akrab dipanggil Gus Mus itu.

Sebagai seni tradisional, pembuatan busur gaya Mataram yang disebut gendewa itupun harus melalui proses yang panjang. Hal ini dilakukan agar kondisi gendewa sesuai dengan pemanahnya.

“Ada hal khusus dan tidak bisa dikira-kira. Karena sebagai senjata, gendewa harus sesuai dengan pemegangnya. Untuk itu mulai dari bahan hingga ukurannya pun harus pas,” katanya menjelaskan. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved